“Maka
nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (QS. 55:55)
Tentang
lelaki.
Yang
jarang sekali diperbincangkan.
Beda
halnya dengan perempuan yang telah ramai dibicarakan.
Kepada
Ketiga Lelaki pemenjara sepi,
yang besar dengan logika tapi seringkali
lumpuh soal hati.
Lelaki
pemenjara sepi yang pertama,
Dia
yang banyak bicara dan sering marah
Tapi
paham pada setiap keadaan bagaimana ia memposisikan diri
Dia
bisa jadi Kakak, jadi kawan, sekaligus jadi orang paling menjengkelkan bagiku.
Dia
bisa memberikan perhatian yang membuat kita kadang lelah menerima perhatiannya
yang bertubi-tubi.
Dia
juga bisa jadi guru, ahli sejarah, sumber berita, kamus berjalan sekaligus
penguji dengan beruntun pertanyaan yang mampu mengalahkan kelancaran seorang
reporter sepak bola.
Dia
sang protector berlebihan yang selalu dirindukan.
Dia
Kakak lelaki pertama yang bisa menjelma jadi adik bungsuku yang menyebalkan.
Dia
juga bisa menjelma jadi raja dengan segala titah.
Dia
seorang bijaksana yang rajin memintaku minum susu dan menghindari tidur larut
malam.
Dan
dia selalu mengajakku jalan-jalan ketika kami bersama kemudian menunjukkan
tempat-tempat tertentu.
Lalu
ia akan bercerita panjang lebar tentang masa lalu, kini, dan nanti, akan
bercerita segala jenis makanan yang pernah ia makan, segala jenis minuman, tempat
rekreasi, merk-merk terkenal, dan lain sebagainya.
Dia
pemarah tapi seberapapun marahnya, dia akan paling hati-hati denganku. Saya
tetap selalu dianggap adik kecilnya yang polos, yang tidak boleh
dibentak-bentak.
Lelaki
pemenjara sepi yang kedua,
Dia
ada tapi tidak ada. Sepatah kalimat yang ia sukai adalah “Mereka tidak akan
pernah tahu tentang aku”.
Dia
yang selalu mengirimiku pesan “Sudah makan?” Tapi tidak pernah mengajakku
makan.
Dia
yang selalu bertanya “Di mana?” dan ketika kujawab di luar, dia yang akan protes dengan keras.
Dia
seorang kakak kedua yang dingin semenjak saya beranjak dewasa.
Dia
yang selalu kutemani berebut tangan ayah semasih kecil untuk dipijitkan atau
digaruk.
Dia
yang pecinta binatang ternak, yang akan bertanya keadaan ayam-ayam piaraanku
pemberian ayah.
Dia
pengagum tokoh-tokoh yang kadangkala fanatik. Dia pengagum berat ketiga tokoh
Jusuf-nya Indonesia- Jend.Muh.Yusuf, Bacharuddin Jusuf Habibie, dan Jusuf
Kalla.
Dia
yang membuatku tertarik pada dunia pergerakan mahasiswa.
Dia
suka menulis syair-syair yang katanya puitis, suka menyanyi sambil main gitar
lalu merekamnya untuk gadis-gadis pujaan hatinya.
Dia
narsis di hadapan orang-orang dan mengaku romantis.
Dia
sang petualang ke mana-mana, Pramuka sejati sejak SD sampai selesai kuliah 7
tahun.
Dia
pemberani, suka bela diri, dia sering iseng mempraktikkan kemampuan bela
dirinya pada benda-benda di sekitarnya.
dan
dia bukan penunggu yang sabar,
dingin
sekaligus menyebalkan.
Sang
pemberontak yang rajin membaca. Dia juga rajin memarahiku.
Pura-pura
tidak peduli padahal ia khawatir.
Katanya,
“Kalau mau terkenal jadilah seperti Soe Hoek Gie!” Hahaha gilaaa…
Dia
bola maniak, dan penikmat kopi, beda dengan lelaki pemenjara sepi yang pertama,
permen rasa kopi saja dia ogah minta ampun.
Dulu,
dia adalah hafidz Qur’an. Semoga sekarang masih terjaga hapalannya. ^_^
Lelaki
pemenjara sepi yang ketiga,
Dialah
pelahir kedua lelaki pemenjara sepi sebelumnya.
Dia
telah menjadi seorang ayah.
Dia
adalah kumpulan mozaik dari kedua lelaki pemenjara sepi yang telah
dilahirkannya.
Dia
sosok lelaki yang hangat dalam keluarga, tapi tegas pada anak didiknya.
Dia
lelaki paling murah senyum yang pernah kutemui.
Dia
sangat senang dengan anak kecil.
Cara
mendidiknya memanjakan dengan nasihat-nasihat yang akan menyentuh relung-relung
hati bagi pendengarnya.
Hingga
saat dia telah tiada, potongan-potongan kalimatnya masih tersimpan rapi di hati
anak-anaknya. Coba Tanya saja setiap dari mereka, pasti punya kutipan favorit
dari sang ayah.
Dia
penulis naskah pidato yang hebat, dia juga pembicara yang memukau.
Dia
pembaca superdisiplin, dengan etika yang benar.
Dia
selalu menghabiskan beberapa buku setiap saat, hingga ia punya banyak buku yang
diwariskan untuk anak-anaknya sampai semua anak-anaknya sangat suka membaca.
Dia biasanya membaca buku sambil duduk di atas kursi di depan TV tanpa
secangkir minuman jenis apapun.
Dia
sosok suami sederhana yang tak banyak tuntutan. Tapi banyak memberikan hadiah
pada istrinya.
Dia
ayah hebat yang selalu memberi inspirasi.
Tak
pernah sedikitpun kuingat bahwa pernah tampak ekspresi marah pada raut mukanya.
Dia
tidak senang melihat orang tua yang mengajari anaknya berbahasa Indonesia sejak
kecil, katanya,”Latih pakai bahasa daerah saja anak-anak kecil,pakai bahasa
ibunya, biar besar nanti mereka akan tahu berbahasa Indonesia dan tetap tahu
pula bahasa daerahnya.”
Ketika
hendak dibantu pekerjaannya, ia pasti akan bertanya, sudah bantu ibumu? Jika
belum maka bantu dulu Ibumu.
Dia
juga orang yang bangga menggunakan sepeda kecilku pergi shalat Jumat, jika
sepeda motornya sedang dipakai oleh anak sulungnya. Dan ketika ditanya dengan
tatapan aneh oleh teman-temannya, ia menjawab dengan tersenyum, “Ini lagi
bernostalgia, ingat masa kecil.”
Ahh
ayah, bagaimana bisa aku tidak merindukanmu?
“Maka nikmat Tuhanmu
yang manakah yang kau dustakan?”
Kepada ketiga lelaki
pemenjara sepi.
Ketiganya tak pernah
banyak bercerita tentang apa yang mereka rasakan, tapi banyak bertanya apa yang
kami lakukan?
Masing-masing punya
sifat keras kepala yang bisa diluluhkan hanya dengan air mata, dan itulah
senjata ampuhku bagi mereka. :D
Tapi, Apakah mungkin
semua lelaki lemah oleh air mata?
Saya suka mengamati
ketiganya ketika sedang diam dengan caranya masing-masing. Dulu, semasa kecil
saya mengira di pikiran mereka hanya ada perempuan. Heheh…. Sampai-sampai
ketika ayah terdiam saya pasti mengganggunya karena siapa tau dia sedang
memikirkan perempuan lain selain ibu. ;)
#31 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar