Rabu, 02 April 2014

KEPADA LELAKI PEMENJARA SEPI Untuk ketiga lelaki (Ayah dan kedua Kakak lelakiku)



“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (QS. 55:55)

Tentang lelaki.
Yang jarang sekali diperbincangkan.
Beda halnya dengan perempuan yang telah ramai dibicarakan.

Kepada Ketiga Lelaki pemenjara sepi,
 yang besar dengan logika tapi seringkali lumpuh soal hati.

Lelaki pemenjara sepi yang pertama,
Dia yang banyak bicara dan sering marah
Tapi paham pada setiap keadaan bagaimana ia memposisikan diri
Dia bisa jadi Kakak, jadi kawan, sekaligus jadi orang paling menjengkelkan bagiku.
Dia bisa memberikan perhatian yang membuat kita kadang lelah menerima perhatiannya yang bertubi-tubi.
Dia juga bisa jadi guru, ahli sejarah, sumber berita, kamus berjalan sekaligus penguji dengan beruntun pertanyaan yang mampu mengalahkan kelancaran seorang reporter sepak bola.
Dia sang protector berlebihan yang selalu dirindukan.
Dia Kakak lelaki pertama yang bisa menjelma jadi adik bungsuku yang menyebalkan.
Dia juga bisa menjelma jadi raja dengan segala titah.
Dia seorang bijaksana yang rajin memintaku minum susu dan menghindari tidur larut malam.
Dan dia selalu mengajakku jalan-jalan ketika kami bersama kemudian menunjukkan tempat-tempat tertentu.
Lalu ia akan bercerita panjang lebar tentang masa lalu, kini, dan nanti, akan bercerita segala jenis makanan yang pernah ia makan, segala jenis minuman, tempat rekreasi, merk-merk terkenal, dan lain sebagainya.
Dia pemarah tapi seberapapun marahnya, dia akan paling hati-hati denganku. Saya tetap selalu dianggap adik kecilnya yang polos, yang tidak boleh dibentak-bentak.

Lelaki pemenjara sepi yang kedua,
Dia ada tapi tidak ada. Sepatah kalimat yang ia sukai adalah “Mereka tidak akan pernah tahu tentang aku”.
Dia yang selalu mengirimiku pesan “Sudah makan?” Tapi tidak pernah mengajakku makan.
Dia yang selalu bertanya “Di mana?” dan ketika kujawab di luar, dia yang akan  protes dengan keras.
Dia seorang kakak kedua yang dingin semenjak saya beranjak dewasa.
Dia yang selalu kutemani berebut tangan ayah semasih kecil untuk dipijitkan atau digaruk.
Dia yang pecinta binatang ternak, yang akan bertanya keadaan ayam-ayam piaraanku pemberian ayah.
Dia pengagum tokoh-tokoh yang kadangkala fanatik. Dia pengagum berat ketiga tokoh Jusuf-nya Indonesia- Jend.Muh.Yusuf, Bacharuddin Jusuf Habibie, dan Jusuf Kalla.
Dia yang membuatku tertarik pada dunia pergerakan mahasiswa.
Dia suka menulis syair-syair yang katanya puitis, suka menyanyi sambil main gitar lalu merekamnya untuk gadis-gadis pujaan hatinya.
Dia narsis di hadapan orang-orang dan mengaku romantis.
Dia sang petualang ke mana-mana, Pramuka sejati sejak SD sampai selesai kuliah 7 tahun.
Dia pemberani, suka bela diri, dia sering iseng mempraktikkan kemampuan bela dirinya pada benda-benda di sekitarnya.
dan dia bukan penunggu yang sabar,
dingin sekaligus menyebalkan.
Sang pemberontak yang rajin membaca. Dia juga rajin memarahiku.
Pura-pura tidak peduli padahal ia khawatir.
Katanya, “Kalau mau terkenal jadilah seperti Soe Hoek Gie!” Hahaha gilaaa…
Dia bola maniak, dan penikmat kopi, beda dengan lelaki pemenjara sepi yang pertama, permen rasa kopi saja dia ogah minta ampun.
Dulu, dia adalah hafidz Qur’an. Semoga sekarang masih terjaga hapalannya. ^_^

Lelaki pemenjara sepi yang ketiga,
Dialah pelahir kedua lelaki pemenjara sepi sebelumnya.
Dia telah menjadi seorang ayah.
Dia adalah kumpulan mozaik dari kedua lelaki pemenjara sepi yang telah dilahirkannya.
Dia sosok lelaki yang hangat dalam keluarga, tapi tegas pada anak didiknya.
Dia lelaki paling murah senyum yang pernah kutemui.
Dia sangat senang dengan anak kecil.
Cara mendidiknya memanjakan dengan nasihat-nasihat yang akan menyentuh relung-relung hati bagi pendengarnya.
Hingga saat dia telah tiada, potongan-potongan kalimatnya masih tersimpan rapi di hati anak-anaknya. Coba Tanya saja setiap dari mereka, pasti punya kutipan favorit dari sang ayah.
Dia penulis naskah pidato yang hebat, dia juga pembicara yang memukau.
Dia pembaca superdisiplin, dengan etika yang benar.
Dia selalu menghabiskan beberapa buku setiap saat, hingga ia punya banyak buku yang diwariskan untuk anak-anaknya sampai semua anak-anaknya sangat suka membaca. Dia biasanya membaca buku sambil duduk di atas kursi di depan TV tanpa secangkir minuman jenis apapun.
Dia sosok suami sederhana yang tak banyak tuntutan. Tapi banyak memberikan hadiah pada istrinya.
Dia ayah hebat yang selalu memberi inspirasi.
Tak pernah sedikitpun kuingat bahwa pernah tampak ekspresi marah pada raut mukanya.
Dia tidak senang melihat orang tua yang mengajari anaknya berbahasa Indonesia sejak kecil, katanya,”Latih pakai bahasa daerah saja anak-anak kecil,pakai bahasa ibunya, biar besar nanti mereka akan tahu berbahasa Indonesia dan tetap tahu pula bahasa daerahnya.”
Ketika hendak dibantu pekerjaannya, ia pasti akan bertanya, sudah bantu ibumu? Jika belum maka bantu dulu Ibumu.
Dia juga orang yang bangga menggunakan sepeda kecilku pergi shalat Jumat, jika sepeda motornya sedang dipakai oleh anak sulungnya. Dan ketika ditanya dengan tatapan aneh oleh teman-temannya, ia menjawab dengan tersenyum, “Ini lagi bernostalgia, ingat masa kecil.”
Ahh ayah, bagaimana bisa aku tidak merindukanmu?
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”


Kepada ketiga lelaki pemenjara sepi.
Ketiganya tak pernah banyak bercerita tentang apa yang mereka rasakan, tapi banyak bertanya apa yang kami lakukan?
Masing-masing punya sifat keras kepala yang bisa diluluhkan hanya dengan air mata, dan itulah senjata ampuhku bagi mereka. :D
Tapi, Apakah mungkin semua lelaki lemah oleh air mata?
Saya suka mengamati ketiganya ketika sedang diam dengan caranya masing-masing. Dulu, semasa kecil saya mengira di pikiran mereka hanya ada perempuan. Heheh…. Sampai-sampai ketika ayah terdiam saya pasti mengganggunya karena siapa tau dia sedang memikirkan perempuan lain selain ibu. ;)

#31 Maret 2014

Tidak ada komentar: