Saat ini kau belum
terlahir di dunia, Anakku. Akan tetapi aku telah merajut sebuah perasaan rindu
akan hadirmu.
Mungkin terlalu doyan
kumelamunkanmu, Nak.
Rinduku terlahir
premature, mungkin.
Atau itu berupa fitrah
pada setiap perempuan.
Anakku, aku telah
membayangkan kau dalam pelukanku, merengek, menangis, dan menyenandungkan
ayat-ayat Tuhan sambil melahirkan tulisan-tulisan tentang perasaanku di setiap
kau tumbuh kembang.
Aku rindu kau mengeja
kata memanggilku dengan sebutan Ummi, berlari ke pelukanku, menggelayutkan
dirimu dengan manja sambil membisikkan tiap kata demi kata yang baru kau
pelajari. Aku telah rindu memangkas waktu sore di balai-balai rumah sambil menghapal
ayat-ayat suci bersama-sama.
Aku telah rindu kau tumbuh remaja lalu bercerita padaku tentang seseorang yang memikat hatimu, bercerita tentang teman-temanmu atau tentang segala cerita yang mengisi setiap harimu. Atau tentang perasaan senang atau cemburumu ketika akan hadir adik-adikmu.
Kemudian, tentang keluhanmu atas tugas-tugas sekolahmu, atau tugas praktikum mungkin. ;)
Aku rindu kau meraih tanganku lalu meletakkan di kedua belah pipimu. Aku rindu kau tumbuh besar tapi masih menggelayut manja tiap kembali di rumah. Aku rindu kau tersenyum padaku, Nak sebagai isyarat ingin dibelai kepalamu dan ditenggelamkan ke dalam pelukan. Aku pun rindu pada suatu masa ketika kau akan menjemput pasanganmu, atau mungkin kau yang dijemput oleh seseorang, Nak. Hingga kau memiliki anak-anak dan membesarkannya. Aku rindu kau menitip setiap mimpi-mimpimu untuk didoakan olehku.
Asal kau tahu, Nak, saat ini mimpi-mimpiku selalu tentang kehadiranmu, seorang bayi kecil tanpa dosa selalu jadi bunga tidurku. Anak-anak yang berbeda-beda setiap waktu. Dan itulah mimpi indah bagiku.
Nak, semoga aku dapat
memahami perasaan rindu ini.
Rasa ini hadir sebagai anugrah bagiku tanpa sedikitpun bermaksud mendahului ketentuan Sang Maha Kuasa.
Kutulis biar jadi
pengingat buat diriku sendiri kelak, sebab kutahu, Nak bahwa membesarkan
anak-anak tidak melulu soal kepolosannya, kulucuan, dan yang indah-indahnya.
Tak dapat kupungkiri akan ada saat aku akan memarahimu ketika kesabaranku tak
terkontrol. Apapun yang terjadi tetap saja aku bukan malaikat, Anakku. Dan
semoga dengan menulis ini lalu mendapatinya di beberapa tahun ke depan, tak ada
tingkah lainku selain tersenyum geli membacanya. Atau perlihatkanlah tulisan
ini ketika aku memarahimu.
“Didiklah
anak-anakmu 20 tahun sebelum kelahirannya.” (Al-Ghazali)
Nak,
:* :* :*
#Kupupuk harapan dan lurusan niat
#Kupupuk harapan dan lurusan niat
_______________________________________________________________26
Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar