Rabu, 26 Maret 2014

AKU RINDU, NAK :: Yaa habiib wa habiibah!



Saat ini kau belum terlahir di dunia, Anakku. Akan tetapi aku telah merajut sebuah perasaan rindu akan hadirmu.
Mungkin terlalu doyan kumelamunkanmu, Nak.
Rinduku terlahir premature, mungkin.
Atau itu berupa fitrah pada setiap perempuan.


Anakku, aku telah membayangkan kau dalam pelukanku, merengek, menangis, dan menyenandungkan ayat-ayat Tuhan sambil melahirkan tulisan-tulisan tentang perasaanku di setiap kau tumbuh kembang.
Aku rindu kau mengeja kata memanggilku dengan sebutan Ummi, berlari ke pelukanku, menggelayutkan dirimu dengan manja sambil membisikkan tiap kata demi kata yang baru kau pelajari. Aku telah rindu memangkas waktu sore di balai-balai rumah sambil menghapal ayat-ayat suci bersama-sama.


Aku telah rindu kau tumbuh remaja lalu bercerita padaku tentang seseorang yang memikat hatimu, bercerita tentang teman-temanmu atau tentang segala cerita yang mengisi setiap harimu. Atau tentang perasaan senang atau cemburumu ketika akan hadir adik-adikmu.


Kemudian, tentang keluhanmu atas tugas-tugas sekolahmu, atau tugas praktikum mungkin. ;)


Aku rindu kau meraih tanganku lalu meletakkan di kedua belah pipimu. Aku rindu kau tumbuh besar tapi masih menggelayut manja tiap kembali di rumah. Aku rindu kau tersenyum padaku, Nak sebagai isyarat ingin dibelai kepalamu dan ditenggelamkan ke dalam pelukan. Aku pun rindu pada suatu masa ketika kau akan  menjemput pasanganmu, atau mungkin kau yang dijemput oleh seseorang, Nak. Hingga kau memiliki anak-anak dan membesarkannya. Aku rindu kau menitip setiap mimpi-mimpimu untuk didoakan olehku.


Asal kau tahu, Nak, saat ini mimpi-mimpiku selalu tentang kehadiranmu, seorang bayi kecil tanpa dosa selalu jadi bunga tidurku. Anak-anak yang berbeda-beda setiap waktu. Dan itulah mimpi indah bagiku.
Nak, semoga aku dapat memahami perasaan rindu ini.


Rasa ini hadir sebagai anugrah bagiku tanpa sedikitpun bermaksud mendahului ketentuan Sang Maha Kuasa.
Kutulis biar jadi pengingat buat diriku sendiri kelak, sebab kutahu, Nak bahwa membesarkan anak-anak tidak melulu soal kepolosannya, kulucuan, dan yang indah-indahnya. Tak dapat kupungkiri akan ada saat aku akan memarahimu ketika kesabaranku tak terkontrol. Apapun yang terjadi tetap saja aku bukan malaikat, Anakku. Dan semoga dengan menulis ini lalu mendapatinya di beberapa tahun ke depan, tak ada tingkah lainku selain tersenyum geli membacanya. Atau perlihatkanlah tulisan ini ketika aku memarahimu.


“Didiklah anak-anakmu 20 tahun sebelum kelahirannya.” (Al-Ghazali)
Nak, :* :* :* 

#Kupupuk harapan dan lurusan niat
_______________________________________________________________26 Maret 2014

Tidak ada komentar: