Kamis, 23 April 2015

Tak Terucap

Perihal air mata yang kau ragukan,
Mengapa tumpah selekas itu?
Tanyamu pada baris-baris paling belakang

Berlapis-lapis duplikat, sebelum sari pati benar tergeliat,
Berjenjang-jenjang kata diucap, sebelum intinya sungguhan tersingkap
Tapi, ia selalu gagal gapai puncak

Pada penekanan milyar-milyar frekuensi telepati yang amat absurd.

Sebelumnya, yang sorean itu
Pada sisa akar pohon yang meranggas ditumpas,
Sudah lebih duluan leleh air matanya berbaris rapi mencual di sana
Hanya kau tak lihat saja.

Rupanya, pikiran pun butuh sandaran penguatan, tak hanya bahu.
Mungkin kita telah sama-sama rapuh hingga tak bisa lagi saling menahu.

Tahukah
Apa yang lebih menyiksa dari persembunyian di bebalik bait-bait ini?

Bisa sekali lagi kupinta cakrawala tersingsing
dari beronggok-onggok kebodohan yang kita rawat baik-baik di kepala?

Bisa kita belajar setia pada sekejap nafas yang tak lama lagi terpenggal?
Tak lama lagi. Hanya sepanjang usia.

Jika tak,
apa yang kau rela bela mati-matian dalam hidupmu?

__Temui aku bersama jawaban

Tidak ada komentar: