Selasa, 16 April 2013

:)



“Minta maaf ka *^_^*” Delivered 12/4/2013
Sebuah pesan singkat yang tiba-tiba kukirim kepada ketiga saudaraku. Entah reflex atau iseng. Wkwkwkwk…
Mmm… sebenarnya tidak demikian, sepertinya.
Saat hendak membaca surat cintaNya (Al-Kahfi), tiba-tiba muncul inisiatifku meminta maaf kepada ketiga saudaraku. Aku tak menyadari mengapa demikian. Lalu, hanya beberapa detik muncul respon pertama dari Kakak Kedua “Magai?”jelas dingin balasannya. Lalu, respon selanjutnya dari kakak pertama “Kenapai” tanpa perlu tanda, tanyanya telah jelas.
Tak berniat kubalas tapi tanganku bergerak mengetik “nda ji”, kemudian aku telah tengah tenggelam membaca surat cintaNya. Beberapa menit kemudian, nada dering sunshine.mid berdendang dari Hp putih kecilku. K’ Kedua memanggil…
Kuhentikan bacaanku dan menjawab “Halo. Assalamu alaikum…”
“Magako?” tanpa balasan salam sebelumnya, “Degaa,” jawabku singkat.
“Di manako ini?”
“Di kampus.”
“Naik apako?” aku tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Petepete. Eh, sudahmi nah ada kukerja. Assalamu alaikum.” Langsung kututup dan kulanjutkan bacaanku.
Beberapa menit kemudian, hpku berdering kembali, masih dari kakak kedua. Kumatikan. Lalu kulanjut bacaanku. Belum lama kemudian berdering lagi dan masih kumatikan. Lalu, datang seorang kakak senior di sampingku. Kulanjutkan bacaanku. Hpku berdering lagi.
“Heh, hm.” Sambil menunjuk Hpku yang bergetar.
Kuhentikan lagi bacaanku. “Biarmi, Kak.” Kumatikan lagi dan kubaca SMS dari kakak pertama berikutnya, “Trs knp mnt map,dlm rngka pa ini..” sekali lagi aku tersenyum mebacanya. Lalu kulanjut lagi bacaanku sampai selesai, air mataku menetes.
Ternyata telah banyak SMS darinya, Kakak kedua.
“Dimanako? Magai?”
“Ira, magako? Tegako? Magi de muakkai tlpku?”
“De muelo malai doimu?” aku mengernyitkan dahi.
“Angkat dulu Ira?”
Kakak ketiga tidak membalas sama sekali.

Lalu, tidak lama kemudian hpku bergetar lagi.
“Yaa Halo. Assalamu alaikum.” Jawaban biasa.
“Tegako?”
“Di kampuska.”
“Magai mukirim sms minta maaf?”
“Deee, deega wedding?” tanyaku sambil senyum.
“Deee, tegako lo ditiwirang doi?”
“Sembarang.”
“Tanya’ka kalo mauko dijemput nanti sore..” Kalimatnya tergambar jelas.
“Mm… iya. Dimanako ini? Kenapa belum pergi shalat Jumat? Sudahmi adzan.”
“Baruka mau pergi ini. Sudahmi pale’.”
“Mm… Assalamu alaikum.”
Baru beberapa detik, dari Kakak Pertama memanggil
“Halo Assalamu alaikum”
“Halo Assalamu alaikum.” Jawabnya meminta jawaban.
“Waalaikum salam. Kenapai?”
“Kenapa minta maaf?”
“Nda ji. Deega wedding?”
“Dee, acara apako tadi kah?”
“Degaaga…”
“Ooh… aga mupigau pale’?”
“Nda ada. Mengajika tadi.”
“Mm… di manako ini kah?”
“Di kampusku ka.”
“Heri?”
“Di bolana ninni.”
“Oh, sudahmi pale’. Hati-hatiko. Assalamu alaikum”
“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh”  jawabku lepas.
Kututup Hpku. Lalu mataku berkaca-kaca hampir pecah tumpah airnya.

Persaudaraan. Dari darah yang kental., aku terpental menikmati.
Tiga karakter yang berbeda, persepsi dan perlakuan yang berbeda terhadapku dari mereka yang kupanggil kakak. Saudara seibubapak.

Kentalnya darah telah mengalir di sekujur persaudaraan. Dan kurenungi nikmat Tuhan berupa kalian.
Kakak Pertama yang selalu menganggapku sebagai adik kecilnya hingga diperlakukan paling sering sebagai anak kecil. “Mir, sudah makan? Sudah tidur? Jangan begadang! Sering-sering minum susu! Jaga kesehatanmu di sana, Dek! Jangan paksa dirimu! Hati-hati kalo ada listrik lalu ada air! Adaji pulsamu? Mau dikirimkan paket SMS gratis?” – Perhatian bahkan kadang kumerasa over. Tapi, aku nyaman. Meski kepada adiknya yang lain ia terkesan galak.
Kakak kedua, kesan cuek tanpa sunggingan senyum sedikitpun yang “selalu” saat bertemu dan celoteh sejak dari naik kendaraannya kalau dijemput sampai singgah di tempat yang dituju adalah kesan tersendirinya. “Kalau mau dijemput mengertiko sedikit, jauh sekali itu dari kampusmu baru dg.tata baru ke minasaupa lalu ke tabariaka lagi, belum lagi heri kuantar ke Fajar. Enam kali kulewati tabaria-minasaupa tiap hari? Capekka juga. Seandainya tidak ada kerjaku yang lain, iniji terus mau dikerja tidak masalah. Mana lagi Cai nasuruh teruski cari kerja nah  nakira langsung kerja orang terus digaji. Pikir-pikir itu! Janganko terlalu sering urus organisasi. Tapi nda kularangjako berorganisasi Cuma jangan terlalu keseringan. Nda bisaka terus antar jemputko. Mauki biarkanko tidak tegaka juga sembarang boncengko.
Aku tak pernah meresponnya dengan bicara. Tapi kudengar baik-baik setiap kalimatnya hingga lancar kutulis meski seminggu kemudian. Kalimat terakhirnya menohok hatiku. Tepat sasaran.
Mataku cengeng lagi. Untung malam dan duduk di belakang. Dan masih berkaca-kaca. Setelah pergi, dia mengirim SMS “Janganko kasi masuk di hati semua kata-kataku tadi” air mataku tumpah membacanya sambil sesekali tersenyum.
Persaudaraan. Lamat-lamat hatiku mengeja “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan, Amirah?”
Kakak Ketiga. Entah karena apa? Kakak ketiga seakan menjelma jadi adikku saat aku masuk di Fakultas Psikologi. “Ir, sendirika di rumah. Jam berapa pulang? Pinjamkanka novel nah?”
Aku mafhum. Sejak lama aku menduduki posisi adik. Dia hanya beberapa waktu sebelum kelahiranku, 3 tahun setelah itu ia menjadi satu-satunya kakak perempuanku. Lalu apa salahnya berganti posisi? Posisi semu, dia butuh dukungan dan perhatian, aku mengerti. Sudah saatnya.
Setelah lulus S1, aktivitasnya berkurang kebanyakan di rumah sambil mencari tahu lowongan kerja.
Aku paham…. Begitupun kakak keduaku sampai di semester 16 belum selesai-selesai dan terus di desak kakak pertama karena aku. Katanya, seharusnya giliranku sendiri yang kuliah, kakak-kakakku harusnya senua sudah kerja. Tapi, jalan Tuhan lebih indah. Lebih bermakna, penuh hikmah. Percayalah!
SMS permintaan maaf itu menggali perasaanku. Mengapa terlalu direspon berlebihan atau sangat asing di antara kita. Memanggil kalian Kakakku sayang ingin sekali rasanya tapi tak bisa kuucap. Selalu saja dianggap lebai, pikirku. Pasti mereka akan bilang keracunan puisi yaa? Atau kecanduan kisah-kisah di dalam novel?
Maka diam adalah aku. Sebutan “kakakku sayang atau Kak saja” telah menjelma diam. Terkatup rapat di dalam hati dan membuncah jadi tangis kerinduan malam. Jangankan panggilan itu, senyum saat berjumpa pun tak pernah semesra senyuman pada orang lain. Simfoni kemesraan kita yaitu Ayah tercinta telah terputus mengikut terkubur, kita lupa mengambil simpulnya waktu itu. Nasehat lembut penuh kasih itulah yang telah hilang di permukaan tapi tidak di kedalaman hati kita masing-masing
SMS permintaan maafku tadi seperti sebuah lelucon sepertinya, tapi tidak bagi kakak keduaku. Perhatian dan pengertian serta cinta yang berselubung kabut di dalam hati akan tetap terpancar meski senyum tak diukir. Sebab senyum tak selalu mewakili kasih dan sayang. Sebab kasih dan sayang pun bisa tergambar lewat kata yang mungkin kasar  bagi yang menutup hati. Bahkan dengan diam sekalipun. Sebab kasih dan sayang bukanlah kata untuk diucap tapi rasa untuk dikecap di dalam jiwa.
Kakaaaaakku sayaaaaang. Terima kasih. Tuhan, Terima kasih… ^_^
Dan untuk Ibuku yang tengah sendiri, terima kasih telah melahirkan kami dari Rahim sucimu dan seputih cintamu. Semoga Tuhan selalu menyemarakkan hati dan jiwamu, Mammi. J
Ayah, perenda cinta dan kelembutan di hati kami, terima kasiiiih banyak. Damailah di sisiNya, Pappi. 
ALLAHU AKBARRR….

Tidak ada komentar: