“Minta maaf
ka *^_^*” Delivered 12/4/2013
Sebuah pesan
singkat yang tiba-tiba kukirim kepada ketiga saudaraku. Entah reflex atau
iseng. Wkwkwkwk…
Mmm…
sebenarnya tidak demikian, sepertinya.
Saat hendak
membaca surat cintaNya (Al-Kahfi), tiba-tiba muncul inisiatifku meminta maaf
kepada ketiga saudaraku. Aku tak menyadari mengapa demikian. Lalu, hanya
beberapa detik muncul respon pertama dari Kakak Kedua “Magai?”jelas dingin
balasannya. Lalu, respon selanjutnya dari kakak pertama “Kenapai” tanpa perlu
tanda, tanyanya telah jelas.
Tak berniat
kubalas tapi tanganku bergerak mengetik “nda ji”, kemudian aku telah tengah
tenggelam membaca surat cintaNya. Beberapa menit kemudian, nada dering
sunshine.mid berdendang dari Hp putih kecilku. K’ Kedua memanggil…
Kuhentikan
bacaanku dan menjawab “Halo. Assalamu alaikum…”
“Magako?”
tanpa balasan salam sebelumnya, “Degaa,” jawabku singkat.
“Di manako
ini?”
“Di kampus.”
“Naik apako?”
aku tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Petepete.
Eh, sudahmi nah ada kukerja. Assalamu alaikum.” Langsung kututup dan
kulanjutkan bacaanku.
Beberapa
menit kemudian, hpku berdering kembali, masih dari kakak kedua. Kumatikan. Lalu
kulanjut bacaanku. Belum lama kemudian berdering lagi dan masih kumatikan.
Lalu, datang seorang kakak senior di sampingku. Kulanjutkan bacaanku. Hpku
berdering lagi.
“Heh, hm.”
Sambil menunjuk Hpku yang bergetar.
Kuhentikan
lagi bacaanku. “Biarmi, Kak.” Kumatikan lagi dan kubaca SMS dari kakak pertama
berikutnya, “Trs knp mnt map,dlm rngka pa ini..” sekali lagi aku tersenyum
mebacanya. Lalu kulanjut lagi bacaanku sampai selesai, air mataku menetes.
Ternyata
telah banyak SMS darinya, Kakak kedua.
“Dimanako?
Magai?”
“Ira, magako?
Tegako? Magi de muakkai tlpku?”
“De muelo
malai doimu?” aku mengernyitkan dahi.
“Angkat dulu
Ira?”
Kakak ketiga
tidak membalas sama sekali.
Lalu, tidak
lama kemudian hpku bergetar lagi.
“Yaa Halo.
Assalamu alaikum.” Jawaban biasa.
“Tegako?”
“Di
kampuska.”
“Magai
mukirim sms minta maaf?”
“Deee, deega
wedding?” tanyaku sambil senyum.
“Deee, tegako
lo ditiwirang doi?”
“Sembarang.”
“Tanya’ka
kalo mauko dijemput nanti sore..” Kalimatnya tergambar jelas.
“Mm… iya.
Dimanako ini? Kenapa belum pergi shalat Jumat? Sudahmi adzan.”
“Baruka mau
pergi ini. Sudahmi pale’.”
“Mm… Assalamu
alaikum.”
Baru beberapa
detik, dari Kakak Pertama memanggil
“Halo
Assalamu alaikum”
“Halo
Assalamu alaikum.” Jawabnya meminta jawaban.
“Waalaikum
salam. Kenapai?”
“Kenapa minta
maaf?”
“Nda ji.
Deega wedding?”
“Dee, acara
apako tadi kah?”
“Degaaga…”
“Ooh… aga
mupigau pale’?”
“Nda ada.
Mengajika tadi.”
“Mm… di
manako ini kah?”
“Di kampusku
ka.”
“Heri?”
“Di bolana
ninni.”
“Oh, sudahmi
pale’. Hati-hatiko. Assalamu alaikum”
“Waalaikum
salam warahmatullahi wabarakaatuh”
jawabku lepas.
Kututup Hpku.
Lalu mataku berkaca-kaca hampir pecah tumpah airnya.
Persaudaraan.
Dari darah yang kental., aku terpental menikmati.
Tiga karakter
yang berbeda, persepsi dan perlakuan yang berbeda terhadapku dari mereka yang
kupanggil kakak. Saudara seibubapak.
Kentalnya
darah telah mengalir di sekujur persaudaraan. Dan kurenungi nikmat Tuhan berupa
kalian.
Kakak Pertama
yang selalu menganggapku sebagai adik kecilnya hingga diperlakukan paling
sering sebagai anak kecil. “Mir, sudah makan? Sudah tidur? Jangan begadang!
Sering-sering minum susu! Jaga kesehatanmu di sana, Dek! Jangan paksa dirimu!
Hati-hati kalo ada listrik lalu ada air! Adaji pulsamu? Mau dikirimkan paket
SMS gratis?” – Perhatian bahkan kadang kumerasa over. Tapi, aku nyaman. Meski
kepada adiknya yang lain ia terkesan galak.
Kakak kedua,
kesan cuek tanpa sunggingan senyum sedikitpun yang “selalu” saat bertemu dan
celoteh sejak dari naik kendaraannya kalau dijemput sampai singgah di tempat
yang dituju adalah kesan tersendirinya. “Kalau mau dijemput mengertiko sedikit,
jauh sekali itu dari kampusmu baru dg.tata baru ke minasaupa lalu ke tabariaka
lagi, belum lagi heri kuantar ke Fajar. Enam kali kulewati tabaria-minasaupa
tiap hari? Capekka juga. Seandainya tidak ada kerjaku yang lain, iniji terus
mau dikerja tidak masalah. Mana lagi Cai nasuruh teruski cari kerja nah nakira langsung kerja orang terus digaji.
Pikir-pikir itu! Janganko terlalu sering urus organisasi. Tapi nda kularangjako
berorganisasi Cuma jangan terlalu keseringan. Nda bisaka terus antar jemputko.
Mauki biarkanko tidak tegaka juga sembarang boncengko.
Aku tak
pernah meresponnya dengan bicara. Tapi kudengar baik-baik setiap kalimatnya
hingga lancar kutulis meski seminggu kemudian. Kalimat terakhirnya menohok
hatiku. Tepat sasaran.
Mataku
cengeng lagi. Untung malam dan duduk di belakang. Dan masih berkaca-kaca.
Setelah pergi, dia mengirim SMS “Janganko kasi masuk di hati semua kata-kataku
tadi” air mataku tumpah membacanya sambil sesekali tersenyum.
Persaudaraan.
Lamat-lamat hatiku mengeja “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan,
Amirah?”
Kakak Ketiga.
Entah karena apa? Kakak ketiga seakan menjelma jadi adikku saat aku masuk di
Fakultas Psikologi. “Ir, sendirika di rumah. Jam berapa pulang? Pinjamkanka
novel nah?”
Aku mafhum.
Sejak lama aku menduduki posisi adik. Dia hanya beberapa waktu sebelum
kelahiranku, 3 tahun setelah itu ia menjadi satu-satunya kakak perempuanku.
Lalu apa salahnya berganti posisi? Posisi semu, dia butuh dukungan dan
perhatian, aku mengerti. Sudah saatnya.
Setelah lulus
S1, aktivitasnya berkurang kebanyakan di rumah sambil mencari tahu lowongan
kerja.
Aku paham….
Begitupun kakak keduaku sampai di semester 16 belum selesai-selesai dan terus
di desak kakak pertama karena aku. Katanya, seharusnya giliranku sendiri yang
kuliah, kakak-kakakku harusnya senua sudah kerja. Tapi, jalan Tuhan lebih
indah. Lebih bermakna, penuh hikmah. Percayalah!
SMS
permintaan maaf itu menggali perasaanku. Mengapa terlalu direspon berlebihan
atau sangat asing di antara kita. Memanggil kalian Kakakku sayang ingin sekali
rasanya tapi tak bisa kuucap. Selalu saja dianggap lebai, pikirku. Pasti mereka
akan bilang keracunan puisi yaa? Atau kecanduan kisah-kisah di dalam novel?
Maka diam
adalah aku. Sebutan “kakakku sayang atau Kak saja” telah menjelma diam.
Terkatup rapat di dalam hati dan membuncah jadi tangis kerinduan malam.
Jangankan panggilan itu, senyum saat berjumpa pun tak pernah semesra senyuman
pada orang lain. Simfoni kemesraan kita yaitu Ayah tercinta telah terputus
mengikut terkubur, kita lupa mengambil simpulnya waktu itu. Nasehat lembut
penuh kasih itulah yang telah hilang di permukaan tapi tidak di kedalaman hati
kita masing-masing
SMS
permintaan maafku tadi seperti sebuah lelucon sepertinya, tapi tidak bagi kakak
keduaku. Perhatian dan pengertian serta cinta yang berselubung kabut di dalam
hati akan tetap terpancar meski senyum tak diukir. Sebab senyum tak selalu
mewakili kasih dan sayang. Sebab kasih dan sayang pun bisa tergambar lewat kata
yang mungkin kasar bagi yang menutup
hati. Bahkan dengan diam sekalipun. Sebab kasih dan sayang bukanlah kata untuk
diucap tapi rasa untuk dikecap di dalam jiwa.
Kakaaaaakku
sayaaaaang. Terima kasih. Tuhan, Terima kasih… ^_^
Dan untuk
Ibuku yang tengah sendiri, terima kasih telah melahirkan kami dari Rahim sucimu
dan seputih cintamu. Semoga Tuhan selalu menyemarakkan hati dan jiwamu, Mammi. J
Ayah, perenda
cinta dan kelembutan di hati kami, terima kasiiiih banyak. Damailah di sisiNya,
Pappi.
ALLAHU
AKBARRR….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar