Oleh: Amirah
Mustafah
Episode
Membuka Pintu
Hidup ini adalah serangkaian
misteri. Takkan ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi sedetik kemudian.
Tapi, pada skenario indah Tuhan telah tertulis semua secara utuh mengenai alur
kehidupan ini pada lauhul mahfudzNya.
Ketika kutekan gagang pintu kotak kehidupanku selama ini, kubuka perlahan daun
pintunya, dan kutatap dunia yang lebih luas dari sebelumnya.
Persimpangan-persimpangan perjalanan menanti di depan mata. Ia hanya menunggu
ke arah mana kaki ini hendak melangkah, maka dikatakanlah bahwa hidup ini
adalah pilihan. Tapi, bagiku pilihan itu tidak sepenuhnya utuh sebagai pilihan,
sebab hati yang bergerak sudah ditentukan setiap liukan bolak-baliknya mengenai
bagaimana seharusnya. Wallaahualam
Bisshawab…
Seperti halnya langkah kaki pertamaku
untuk melanjutkan perjalanan sebelumnya, gerakan hati yang condong pada
ketertarikan bermula pada dunia maya bahwa akan dibuka segera Pendaftaran Calon
Anggota Penalaran XVI di Gerakan 1000 PKM untuk UNM. Target-target yang telah
menancap di dalam hati, bergoyang dengan semangat. Target berorganisasi yang
selama ini menjadi dahagaku akan segera kutunaikan. Bismillah…
***
“Kak Nisa, maumi bede dibuka
pendaftarannya Penalaran?”
“Ini, baru mau pergi sosialisasi.
Di mana ruangan ta, Dek?” ujarnya dengan suara khas dari seorang kakak seniorku
sambil bersandar pada sebuah mobil yang terparkir di halaman Fakultas Psikologi.
Langkah kaki sudah mulai terhenti
untuk memutuskan persimpangan mana yang akan kulewati selanjutnya. Pandanganku
tertuju pada pintu gerbang Penalaran, kucoba menyentuh pintu gerbang itu dengan
mengikuti Sosialisasi PMP-OMK sekaligus pembagian formulir pendaftaran. 105
adalah urutan pendaftaranku yang kelak menjadi identitasku selama melangkahkan
kaki menuju lorong tanah di tengah-tengah kebun warna lain dunia di balik pintu
pagar itu. Sebuah lorong yang menjadi salah satu saksi bisu perjalanan, tempat
setiap langkah-langkah kaki berderak menapaki pilihan hati. Beraneka perasaan
menjadi sangat terang saat melewati lorong tersebut, mungkin karena ulurannya
yang cukup panjang dan lurus sehingga melaluinya hati punya kesempatan yang
cukup untuk bicara pada jiwa, pada setiap langkah, dan pada goresan selanjutnya.
Di
Depan Gerbang PENALARAN
Ketika kusentuh gerbang, tak
lantas saya bisa masuk seketika, ada penjaga yang menggeledah niat, mengutak-atik
bahwa seberapa besar tekad yang kubawa untuk menempuh lorong coklat itu.
Mungkin, sang penjaga khawatir nanti saya akan kehabisan bekal tekad di tengah
jalan.
Penggeladahan itu serangkaian
proses menjenuhkan karena ada selang waktu yang cukup jauh, mulai dari Technical Meeting I, Forum Group Disscusion,
Tes Wawancara, dan Tes Tulis. Namun, semua itu menjadi pembaharuan di
Januariku sampai-sampai golput di PEMILUKADA.
Gerbang
Terbuka Pelan-pelan
Detik-detik pengumuman kelulusan
untuk seleksi berikutnya tak cukup menegangkan bagiku. Entah karena apa. Saat pengumuman
tersebut, saya tengah berada di bumi kelahiranku, Watampone. Prinsipku saat
itu, jika Penalaran ini baik untukku, maka Tuhan pasti akan meluluskanku dan
memudahkan jalanku menelusurinya, karena Tuhan selalu memberi yang terbaik buat
hambaNya. Keyakinan itu membuatku cukup tenang.
Organisasi Penalaran, pemahaman
awalku organisasi ini hanya sebuah lembaga penelitian, tapi ternyata tidak
hanya sekedar itu. Saya tertarik memasuki Penalaran bukan dari hasil pemikiran
yang matang memang, melainkan dari perasaan yang tertarik oleh magnet. Saya
tidak terlalu mengenal Penalaran sebelumnya sama halnya saya memilih Psikologi
di UNM, padahal di SMA saya senangnya Matematika dengan Fisika. Hm… mungkin
inilah Perjalanan hati itu. Maka dari itu, Tuhan menyimpul hatiku pada sesuatu
yang belum terlalu kukenal sebelumnya. Dan
Tuhan, kutemukan berkas-berkas cahaya impianku di sini dengan penuh kejutan. Kuharap
berkah berlimpah atas semuanya, Yaa Rabbi… Fabiayyi Aalaa I Rabbikumaa
Tukazzibaan…
Episode
1 #Perjalanan Hati
Kegiatan Pelatihan Metodologi
Penelitian (PMP) di LEC Athirah, di sini kaki mulai melangkah kuat,
menyingsingkan lengan baju, membulatkan tekad selama 4 hari 3 malam. Tekanan-tekanan
hati mulai terasa di sini. Kerikil-kerikil mulai bergelincir berdenging-denging
dihentak kaki-kaki hati. Menerima materi penelitian sepanjang hari dan langsung
praktek di malam harinya, menyita energi ganda, fisik dan psikis. Inilah
pemendaman rasa yang cukup menyiksa bagiku selain rindu. Rasa itu adalah
kantuk, rasa ingin tidur pulas sambil memeluk guling di atas kasur. Tapi,
perbekalan tekadku masih kuat untuk bertahan. Kata-kata Kak Lola yang terus
terekam bahwa KELUARLAH DARI ZONA NYAMANMU!!! menjadi pelecut semangat
tersendiri bagiku. Keluar dari zona nyaman untuk apa? Kata selanjutnya adalah
UNTUK SUKSES. Entah apa lagi makna SUKSES. Semua punya pemaknaan termasuk saya.
Bagi saya, keluar dari zona nyaman adalah untuk menikmati hidup. Hidup yang
bertolak belakang tapi berdampingan dan seirama, hitam putih, gelap terang,
pahit manis, dan seperti daratan yang berdampingan dengan lautan. Harmonisasi
yang indah.
bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar