Senin, 06 Mei 2013

SIRAH HATI DI PENALARAN




Oleh: Amirah Mustafah
Episode Membuka Pintu

Hidup ini adalah serangkaian misteri. Takkan ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Tapi, pada skenario indah Tuhan telah tertulis semua secara utuh mengenai alur kehidupan ini pada lauhul mahfudzNya. Ketika kutekan gagang pintu kotak kehidupanku selama ini, kubuka perlahan daun pintunya, dan kutatap dunia yang lebih luas dari sebelumnya. Persimpangan-persimpangan perjalanan menanti di depan mata. Ia hanya menunggu ke arah mana kaki ini hendak melangkah, maka dikatakanlah bahwa hidup ini adalah pilihan. Tapi, bagiku pilihan itu tidak sepenuhnya utuh sebagai pilihan, sebab hati yang bergerak sudah ditentukan setiap liukan bolak-baliknya mengenai bagaimana seharusnya. Wallaahualam Bisshawab…

Seperti halnya langkah kaki pertamaku untuk melanjutkan perjalanan sebelumnya, gerakan hati yang condong pada ketertarikan bermula pada dunia maya bahwa akan dibuka segera Pendaftaran Calon Anggota Penalaran XVI di Gerakan 1000 PKM untuk UNM. Target-target yang telah menancap di dalam hati, bergoyang dengan semangat. Target berorganisasi yang selama ini menjadi dahagaku akan segera kutunaikan. Bismillah…
***
“Kak Nisa, maumi bede dibuka pendaftarannya Penalaran?”
“Ini, baru mau pergi sosialisasi. Di mana ruangan ta, Dek?” ujarnya dengan suara khas dari seorang kakak seniorku sambil bersandar pada sebuah mobil yang terparkir di halaman Fakultas Psikologi.
Langkah kaki sudah mulai terhenti untuk memutuskan persimpangan mana yang akan kulewati selanjutnya. Pandanganku tertuju pada pintu gerbang Penalaran, kucoba menyentuh pintu gerbang itu dengan mengikuti Sosialisasi PMP-OMK sekaligus pembagian formulir pendaftaran. 105 adalah urutan pendaftaranku yang kelak menjadi identitasku selama melangkahkan kaki menuju lorong tanah di tengah-tengah kebun warna lain dunia di balik pintu pagar itu. Sebuah lorong yang menjadi salah satu saksi bisu perjalanan, tempat setiap langkah-langkah kaki berderak menapaki pilihan hati. Beraneka perasaan menjadi sangat terang saat melewati lorong tersebut, mungkin karena ulurannya yang cukup panjang dan lurus sehingga melaluinya hati punya kesempatan yang cukup untuk bicara pada jiwa, pada setiap langkah, dan pada goresan selanjutnya.

Di Depan Gerbang PENALARAN

Ketika kusentuh gerbang, tak lantas saya bisa masuk seketika, ada penjaga yang menggeledah niat, mengutak-atik bahwa seberapa besar tekad yang kubawa untuk menempuh lorong coklat itu. Mungkin, sang penjaga khawatir nanti saya akan kehabisan bekal tekad di tengah jalan.
Penggeladahan itu serangkaian proses menjenuhkan karena ada selang waktu yang cukup jauh, mulai dari Technical Meeting I, Forum Group Disscusion, Tes Wawancara, dan Tes Tulis. Namun, semua itu menjadi pembaharuan di Januariku sampai-sampai golput di PEMILUKADA.

Gerbang Terbuka Pelan-pelan

Detik-detik pengumuman kelulusan untuk seleksi berikutnya tak cukup menegangkan bagiku. Entah karena apa. Saat pengumuman tersebut, saya tengah berada di bumi kelahiranku, Watampone. Prinsipku saat itu, jika Penalaran ini baik untukku, maka Tuhan pasti akan meluluskanku dan memudahkan jalanku menelusurinya, karena Tuhan selalu memberi yang terbaik buat hambaNya. Keyakinan itu membuatku cukup tenang.
Organisasi Penalaran, pemahaman awalku organisasi ini hanya sebuah lembaga penelitian, tapi ternyata tidak hanya sekedar itu. Saya tertarik memasuki Penalaran bukan dari hasil pemikiran yang matang memang, melainkan dari perasaan yang tertarik oleh magnet. Saya tidak terlalu mengenal Penalaran sebelumnya sama halnya saya memilih Psikologi di UNM, padahal di SMA saya senangnya Matematika dengan Fisika. Hm… mungkin inilah Perjalanan hati itu. Maka dari itu, Tuhan menyimpul hatiku pada sesuatu yang belum terlalu kukenal sebelumnya. Dan Tuhan, kutemukan berkas-berkas cahaya impianku di sini dengan penuh kejutan. Kuharap berkah berlimpah atas semuanya, Yaa Rabbi… Fabiayyi Aalaa I Rabbikumaa Tukazzibaan…

Episode 1 #Perjalanan Hati

Kegiatan Pelatihan Metodologi Penelitian (PMP) di LEC Athirah, di sini kaki mulai melangkah kuat, menyingsingkan lengan baju, membulatkan tekad selama 4 hari 3 malam. Tekanan-tekanan hati mulai terasa di sini. Kerikil-kerikil mulai bergelincir berdenging-denging dihentak kaki-kaki hati. Menerima materi penelitian sepanjang hari dan langsung praktek di malam harinya, menyita energi ganda, fisik dan psikis. Inilah pemendaman rasa yang cukup menyiksa bagiku selain rindu. Rasa itu adalah kantuk, rasa ingin tidur pulas sambil memeluk guling di atas kasur. Tapi, perbekalan tekadku masih kuat untuk bertahan. Kata-kata Kak Lola yang terus terekam bahwa KELUARLAH DARI ZONA NYAMANMU!!! menjadi pelecut semangat tersendiri bagiku. Keluar dari zona nyaman untuk apa? Kata selanjutnya adalah UNTUK SUKSES. Entah apa lagi makna SUKSES. Semua punya pemaknaan termasuk saya. Bagi saya, keluar dari zona nyaman adalah untuk menikmati hidup. Hidup yang bertolak belakang tapi berdampingan dan seirama, hitam putih, gelap terang, pahit manis, dan seperti daratan yang berdampingan dengan lautan. Harmonisasi yang indah.
bersambung…

Tidak ada komentar: