Tuhanku, apa maksud dari
semua yang Kau singgahkan di lingkaran hidupku? Dramatisir duniaku yang
kuhayati, dan semakin kukerdil dalam bingkai penghayatan.
Tuhan, kau letakkan aku
dimana sekarang?
Setelah membuka pintu kamar
kost di pagi hari saat hendak berangkat ke kampus, kejutan mengerikan tertata
rapi di samping tangga. Berupa botol-botol bertopi miring tersenyum manis
menyambut. Membiaskan nuraniku.
Setelah semalaman terganggu
oleh teriakan ababil di setiap masa pada dunia gemerlap para pemiskin
kehidupan. Mereka melantunkan syair-syair neraka di garis hijabku yang setipis papan
teriris. Amukan-amukan ketidaksadaran mereka mengajakku membaca makna dan
mengurai rasa syukur sekaligus gelisah bertabur tanda baca berkecamuk mencari
jawaban bahwa tak ada yang sia-sia di dunia ini.
Di malam hari berikutnya.
Tuhan, sepertinya Kau kembali membelaiku dengan kasihMu. Seorang titipanMu
menjelma sangar di perjalanan sepi. Mengagetkan teman yang kutemani, teman
seperjalanan yang tergores bekas luka.
Keesokan pagi selanjutnya,
tanda baca itu semakin sangar tapi semakin lembut kurasakan belaianMu, Tuhan. Seorang
dari jenis yang sama sebelumnya, juga menggeliatkan kesangaran tapi kutak
terusik dengan ketakutan. Kunikmati dalam-dalam, sambil berlirih di dalam hati
apa maksud semua ini, Tuhan? Pahamkan aku!
Dua hari kemudian, seorang
Ibu yang bak malaikat Kau kirim menyingkap cakrawala tanda-tanda baca itu.
Di awali dari aliran cerita
yang kami sampaikan sebagai curahan, ketika bertandang ke warungnya, pada Ibu
itu yang sudah kami percaya. Semua kejutan-kejutanMu kami ceritakan pada Ibu
itu, Sang Ibu menjawab, “Hati-hati, Nak. Biar itu bukan kita yang berbuat
maksiat, kita juga orang-orang di sekitarnya akan terkena akibat perbuatannya.”
Degggg... aku tersedak.
Iyya, pasti serangkaian peristiwa dramatis yang kualami beberapa hari terakhir
ini adalah pembenaran akan hal itu.
Tapi,
Tuhan. Kuharap Kau selalu menggerakkan hatiku untuk melakukan yang terbaik.
Kuharap Kau selalu menggelarkan hikmah di pemaknaanku meski derita kehidupan
begitu menghimpitku.
Dan
tetapkanlah hatiku pada pilihan dalam kedilemaan ladang dakwah yang kutahu
tidak mudah itu... Rabb, Kaulah penuntun hidupku.
Maka nikmat Tuhanmu yang
manakah yang Kau dustakan?
13 Juni 2013 *////////
gerimis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar