Allah,
salahkah aku jika hatiku terketuk oleh orang lain yang belum tentu
akan jadi penghuni sesungguhnya?
Salahkah aku jika membukakannya pintu, mempersilakan masuk ke ruang
tamu hatiku lalu membiarkannya mengobrol sampai dia beranjak kembali? Hingga dia
jenuh sementara waktu?
Salahkah aku jika membiarkannya terus berkunjung kapan pun ia mau
ketika pintu dan jendela hatiku terbuka?
Padahal, aku membuka pintu dan jendela hatiku hanya untuk membiarkan
udara segar menelusup meresapi sejuknya pagiMu, teduhnya soreMu, dan dinginnya
malamMu…
Allah salahkah aku, jika lantas membiarkannya masuk?
Atau harus kuusir dia jauh-jauh?
Ataukah harus kutup pintu dan jendela hatiku sampai ada yang datang
dengan membawa kunci agar membukanya sendiri
meski aku pengap?
Meski aku senyap?
Meski aku sesak?
Meski aku tak sanggup?
Allah, maafkan aku.
Pun aku berharap agar diamku adalah hanya milikMu, kuharap diamku
adalah berkah, bukan diam yang membuatku melukis bayang-bayang yang tak karuan.
Bicaraku pun kuharap jadi peneduh hati saudara-saudariku. Bukan jadi
ocehan yang tertiup angin, tapi ia jadi penenang dan penyenang hati
saudara-saudariku…
Allah, maafkan akuuuu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar