Mungkin memang jalan itulah
yang seharusnya kutempuh. Menghentikan segala bentuk komunikasi yang
melalaikan dan menelan waktu hebatku.
Perasaan terlalu terhormat jika harus kugadaikan dengan
hal-hal yang belum pasti mendapat ridho Allah.
Impian terlalu bergejolak untuk segera kutunaikan, tekad
telah merongrong jiwa ragaku menjadi semangat yang meledak-ledak.
Namun semua selalu kutekan oleh kenikmatan-kenikmatan dunia.
Semua kualihkan dalam kemalasan yang merajai.
Aku hanya ingin memperbesar cintaku padaMu, Tuhan Yang Maha
Agung.
Tak dapat kupungkiri bahwa interaksi yang semakin sering akan
menggiurkanku.
Tanpa kusadari aku telah berada di bibir jurang kenistaan.
Dan CintaMu selalu lebih besar dari segalanya. PenjagaanMu
selalu datang tepat waktu dan setia melingkupiku. Kau menegurku. Terima kasihku
padaMu, Tuhanku.
Menjaga kehormatan perasaan sungguh menjadi prinsip yang
ingin terus kupertahankan, Tuhan.
Kuharap hal itupun
menjadi penghargaan buat kedua orangtuaku
menjadi penghormatan buat kedua saudara lelakiku
menjadi pengabdian kepada agamaku
menjadi bukti kesetian kepada seseorang yang dari tulang
rusuknya aku tercipta
dan yang lebih penting adalah menjadi penghambaanku
terhadapMu, Tuhan
Laa Haula Walaa Kuwwata Illaa Billah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar