17 Agustus 2013, tepat
malam minggu. Saya kembali bergabung dengan kegiatan panitia Danus KBIN 2013
setelah tugas Seksi Kesekretariatan telah selesai untuk hari ini. Sebuah Karya
Bakti Ilmiah berskala Nasional yang pertama kali diadakan oleh Organisasi kami,
Penalaran.
Penggalangan dana kami
lakukan di Anjungan Pantai Losari sebagaimana lazimnya. Pantai Losari telah
menjadi lokasi istimewa bagi para mahasiswa yang hendak menggalang dana. Saya
telah beberapa kali melakukan penggalangan dana di tempat tersebut dengan
berbagai bentuk kepanitian, sejak masih awal-awalnya jadi MABA sampai saat ini
, menjelang semester ketiga di Psikologi.
Namun, kali ini lebih
menarik dari sebelum-sebelumnya. Kegiatan yang hendak kami lakukan memang cukup
menjual, dan pibadi juga tentu lebih bersemangat karena ini berwujud pengabdian
masyarakat secara langsung. Berbeda dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya. Sebab
dengan menggalang dana seperti itu secara ototmatis kami juga mengajak para
masyarakat untuk berkontribusi secara tidak langsung dengan
masyarakat-masyarakat di Desa Benteng, Kec. Camba, Kab. Maros.
Tapi, ada pemandangan
menarik lainnya. Di tengah keramaian para masyarakat yang tengah menikmati
pemandangan Pantai Losari atau dengan tujuan-tujuan lainnya, terdapat banyak sekali
penjual minuman dari kalangan anak-anak, para pengamen, penjua mainan, dan para
mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dengan segala bentuk kreativitasnya
juga turut serta. Seringkali kami tersenyum simpul jika secara tidak sengaja
saling menawari.
Namun, terlihat sangat
kontras ketika Si mahasiswa dengan pedagang minuman (anak-anak jalanan)
sekaligus menawari pembeli secara bersamaan saat menjajakan jualan. Mahasiswa
dengan pakaiannya yang rapi dan bersih, tampak seperti kaum intelek yang
sesungguhnya. Sementara anak-anak tersebut dengan pakaian kotornya, kumal, dan
penuh debu, seperti berhari-hari tak pernah dicuci. Ishhhhk... nurani meringis.
Saat seorang anak
perempuan berambut panjang kriwil menawarkan minumannya kepada sepasang
pengunjung di Pantai Losari, sambil sesekali menabrakan botol minuman yang satu
dengan yang lainnya. Wajahnya cemberut, mungkin karena tidak dipedulikan oleh
pengunjung yang sedari tadi ditawari, atau mungkin bosan, atau mungkin itu
bentuk ketidaksetujuannya yang tak dipahami akan kondisi kehidupan yang harus
menuntutnya berbuat demikian. Jika bisa memilih, anak siapa yang mau lahir dari
keluarga penuh keterbatasan, siapa yang ingin menjadi anak jalanan, mengamen
atau bahkan mengemis? Sungguh tak ada yang benar-benar menginginkan kehidupan
yang serba menyulitkan seperti itu, di tempat-tempat penuh debu, diterpa panas
terik dan hujan yang tak kenal waktu.
Siapapun itu, jika
ditanya pasti menginginkan kehidupan yang serba nyaman, seidealis apapun orang
tersebut. Kecuali jika orang tersebut terus menerus mengantam nafsunya. Tapi
beruntunglah Anda jika bisa seperti itu.
Saat anak itu masih
memelas Si Pengunjung agar membeli minumannya yang tak jarang menyebalkan bagi para
pengunjung, datang dua orang mahasiswi dengan pakaian yang cukup rapi, yang
satu dengan bawahan jeans biru, kemeja merah jambu dengan jilbab yang senada,
yang satunya lagi dengan rok hitam, kemeja batik coklat selutut plus jilbab
coklat lebar. Aku salah satu di antara mahasiswi itu. Kedua mahasiswi yang baru
duduk di tingkat dua tersebut langsung menyapa dengan salam santun, ramah, dan
cerdas saat memaparkan bentuk kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka
penggalangan dana tersebut. Sepasang pengunjung yang tengah ditawari pun seakan
terkagum-kagum, lalu merogoh koceknya untuk membeli jualan Si Mahasiswi. Anak
perempuan itu pun langsung protes, “Kak, curangki, dari tadika tawariki nda
mauki beli, kalo ini langsung.”
Saya langsung
tersenyum mendengar penuturan anak kecil itu. Nuraniku tercabik seketika. Sang
pengunjung diam saja, tampak raut tidak enak di wajahnya mendengar kata-kata
anak itu. Nurani takkan bisa berdusta. Takkan pernah. Pada saat yang bertepatan kami kehausan, mungkin ini
cara Tuhan agar kami peduli pada anak
tersebut. Kami pun membeli dua botol air mineral pada anak tersebut.
Lalu ia terus
mengikuti kami berjualan, jadi kami jualan puding, anak tersebut jual minuman,
tapi tetap saja tak ada yang membeli minuman. Hanya puding kami yang laris
manis. Kami tentu saja senang. Tapi, sekali lagi nurani takkan pernah berdusta,
rasa senang itu tak utuh. Saat jualan kami tinggal 3 biji terakhir, kami
langsung saja membagikannya kepada anak-anak tersebut.
Akh...
Menyesakkan. Hari
adalah peringatan Hari Kemerdekaan negeri ini yang keenam puluh delapan. Tapi,
masih banyak anak-anak bangsa yang tak diperhatikan. Mereka dibiarkan terlantar
begitu saja. Hal ini tentu bukan tugas pemerintah semata, kita sebagai manusia
perlu peduli akan hal-hal seperti itu.
Jadi teringat kata
salah seorang pengunjung yang kami tawari jualan saat kami memaparkan kondisi
Desa Benteng yang agak tertinggal dan belum dijamah aliran listrik senyaman
kita. Ia berkata bahwa itu salah Bupatinya. Kenapa minta sama kami?
Hiksss... Itulah jika
posisi pemimpin diletakkan untuk sempurna, kita selalu lupa bahwa pemimpin kita
adalah manusia yang butuh kerja sama rakyatnya. Tidak heran jika rakyat seakan
anti dengan pemimpin, begitupun sebaliknya. Hoaashhhhxgrgxgrgg. Bagaimana bisa
aman sentosa tentram adil dan damai suatu negara kalau demikian?
Saya pribadi sangat
tersiksa, mahasiswi Psikologi yang paham seluk-beluk rasa, emosi, semangat pada
anak-anak, potensi-potensi yang harus diasah sejak dini secara otomatis
dituntut untuk lebih banyak peduli. Lebih miris lagi jika anak kecil memanggil
kami dengan panggilan menggoda,”Ceweeeek!!!” Haaaaakkk... bagaimana tidak
banyak tindak amoral, anak-anak sekecil itu sudah pintar saja menggoda. Tapi,
saya teringat akan pesan yang mengatakan bahwa doa anak kecil mudah dijabah
oleh ALLAh Swt, karena masih belum banyak dosa, maka saya dekati anak-anak itu
lalu menyapanya,”Hei, Dek mauki makan puding? Ini.” Lalu anak itu
menjawab,”Iyya cewek mauka.”
“Panggil kakakki, Dek.
Oh ya, Dek, minta tolongka’ nah doakan kami semoga kegiatan kami berjalan
lancar!”
Mereka serempak berteriak,”Iyye,
Kak. Aamiin.” J
“Huaahhh... Adik-adikku, apa yang bisa kupersembahkan untukmuuuuuuu?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar