Senin, 19 Agustus 2013

Hari Merdeka di Pantai Losari


17 Agustus 2013, tepat malam minggu. Saya kembali bergabung dengan kegiatan panitia Danus KBIN 2013 setelah tugas Seksi Kesekretariatan telah selesai untuk hari ini. Sebuah Karya Bakti Ilmiah berskala Nasional yang pertama kali diadakan oleh Organisasi kami, Penalaran.
Penggalangan dana kami lakukan di Anjungan Pantai Losari sebagaimana lazimnya. Pantai Losari telah menjadi lokasi istimewa bagi para mahasiswa yang hendak menggalang dana. Saya telah beberapa kali melakukan penggalangan dana di tempat tersebut dengan berbagai bentuk kepanitian, sejak masih awal-awalnya jadi MABA sampai saat ini , menjelang semester ketiga di Psikologi.

Namun, kali ini lebih menarik dari sebelum-sebelumnya. Kegiatan yang hendak kami lakukan memang cukup menjual, dan pibadi juga tentu lebih bersemangat karena ini berwujud pengabdian masyarakat secara langsung. Berbeda dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya. Sebab dengan menggalang dana seperti itu secara ototmatis kami juga mengajak para masyarakat untuk berkontribusi secara tidak langsung dengan masyarakat-masyarakat di Desa Benteng, Kec. Camba, Kab. Maros.

Tapi, ada pemandangan menarik lainnya. Di tengah keramaian para masyarakat yang tengah menikmati pemandangan Pantai Losari atau dengan tujuan-tujuan lainnya, terdapat banyak sekali penjual minuman dari kalangan anak-anak, para pengamen, penjua mainan, dan para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dengan segala bentuk kreativitasnya juga turut serta. Seringkali kami tersenyum simpul jika secara tidak sengaja saling menawari.

Namun, terlihat sangat kontras ketika Si mahasiswa dengan pedagang minuman (anak-anak jalanan) sekaligus menawari pembeli secara bersamaan saat menjajakan jualan. Mahasiswa dengan pakaiannya yang rapi dan bersih, tampak seperti kaum intelek yang sesungguhnya. Sementara anak-anak tersebut dengan pakaian kotornya, kumal, dan penuh debu, seperti berhari-hari tak pernah dicuci. Ishhhhk... nurani meringis.

Saat seorang anak perempuan berambut panjang kriwil menawarkan minumannya kepada sepasang pengunjung di Pantai Losari, sambil sesekali menabrakan botol minuman yang satu dengan yang lainnya. Wajahnya cemberut, mungkin karena tidak dipedulikan oleh pengunjung yang sedari tadi ditawari, atau mungkin bosan, atau mungkin itu bentuk ketidaksetujuannya yang tak dipahami akan kondisi kehidupan yang harus menuntutnya berbuat demikian. Jika bisa memilih, anak siapa yang mau lahir dari keluarga penuh keterbatasan, siapa yang ingin menjadi anak jalanan, mengamen atau bahkan mengemis? Sungguh tak ada yang benar-benar menginginkan kehidupan yang serba menyulitkan seperti itu, di tempat-tempat penuh debu, diterpa panas terik dan hujan yang tak kenal waktu.

Siapapun itu, jika ditanya pasti menginginkan kehidupan yang serba nyaman, seidealis apapun orang tersebut. Kecuali jika orang tersebut terus menerus mengantam nafsunya. Tapi beruntunglah Anda jika bisa seperti itu.

Saat anak itu masih memelas Si Pengunjung agar membeli minumannya yang tak jarang menyebalkan bagi para pengunjung, datang dua orang mahasiswi dengan pakaian yang cukup rapi, yang satu dengan bawahan jeans biru, kemeja merah jambu dengan jilbab yang senada, yang satunya lagi dengan rok hitam, kemeja batik coklat selutut plus jilbab coklat lebar. Aku salah satu di antara mahasiswi itu. Kedua mahasiswi yang baru duduk di tingkat dua tersebut langsung menyapa dengan salam santun, ramah, dan cerdas saat memaparkan bentuk kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka penggalangan dana tersebut. Sepasang pengunjung yang tengah ditawari pun seakan terkagum-kagum, lalu merogoh koceknya untuk membeli jualan Si Mahasiswi. Anak perempuan itu pun langsung protes, “Kak, curangki, dari tadika tawariki nda mauki beli, kalo ini langsung.”

Saya langsung tersenyum mendengar penuturan anak kecil itu. Nuraniku tercabik seketika. Sang pengunjung diam saja, tampak raut tidak enak di wajahnya mendengar kata-kata anak itu. Nurani takkan bisa berdusta. Takkan pernah. Pada saat  yang bertepatan kami kehausan, mungkin ini cara Tuhan agar kami peduli pada anak  tersebut. Kami pun membeli dua botol air mineral pada anak tersebut.

Lalu ia terus mengikuti kami berjualan, jadi kami jualan puding, anak tersebut jual minuman, tapi tetap saja tak ada yang membeli minuman. Hanya puding kami yang laris manis. Kami tentu saja senang. Tapi, sekali lagi nurani takkan pernah berdusta, rasa senang itu tak utuh. Saat jualan kami tinggal 3 biji terakhir, kami langsung saja membagikannya kepada anak-anak tersebut.

Akh... 
Menyesakkan. Hari adalah peringatan Hari Kemerdekaan negeri ini yang keenam puluh delapan. Tapi, masih banyak anak-anak bangsa yang tak diperhatikan. Mereka dibiarkan terlantar begitu saja. Hal ini tentu bukan tugas pemerintah semata, kita sebagai manusia perlu peduli akan hal-hal seperti itu.

Jadi teringat kata salah seorang pengunjung yang kami tawari jualan saat kami memaparkan kondisi Desa Benteng yang agak tertinggal dan belum dijamah aliran listrik senyaman kita. Ia berkata bahwa itu salah Bupatinya. Kenapa minta sama kami?

Hiksss... Itulah jika posisi pemimpin diletakkan untuk sempurna, kita selalu lupa bahwa pemimpin kita adalah manusia yang butuh kerja sama rakyatnya. Tidak heran jika rakyat seakan anti dengan pemimpin, begitupun sebaliknya. Hoaashhhhxgrgxgrgg. Bagaimana bisa aman sentosa tentram adil dan damai suatu negara kalau demikian?

Saya pribadi sangat tersiksa, mahasiswi Psikologi yang paham seluk-beluk rasa, emosi, semangat pada anak-anak, potensi-potensi yang harus diasah sejak dini secara otomatis dituntut untuk lebih banyak peduli. Lebih miris lagi jika anak kecil memanggil kami dengan panggilan menggoda,”Ceweeeek!!!” Haaaaakkk... bagaimana tidak banyak tindak amoral, anak-anak sekecil itu sudah pintar saja menggoda. Tapi, saya teringat akan pesan yang mengatakan bahwa doa anak kecil mudah dijabah oleh ALLAh Swt, karena masih belum banyak dosa, maka saya dekati anak-anak itu lalu menyapanya,”Hei, Dek mauki makan puding? Ini.” Lalu anak itu menjawab,”Iyya cewek mauka.”

“Panggil kakakki, Dek. Oh ya, Dek, minta tolongka’ nah doakan kami semoga kegiatan kami berjalan lancar!”

Mereka serempak berteriak,”Iyye, Kak. Aamiin.” J


“Huaahhh... Adik-adikku, apa yang bisa kupersembahkan untukmuuuuuuu?”

Tidak ada komentar: