Sebuah
pergulatan batin yang terus menerus menggeliat, sepertinya dari dalam dada.
Perasaan tidak tenang, sesak, dan menyiksa saat menyimak berita-berita dari
berbagai media baik elektronik maupun cetak, yang tak pernah lekang oleh
masalah. Memang keberadaan kehidupan
dunia dicirikan oleh adanya masalah. Masalah-masalah itu membawa pesan kepada
makhluk Tuhan yang “katanya” berakal dan berbudi pekerti untuk memfungsikan
akal dan budi pekerti itu. Tapi, adakah kesadaran itu sebagai manusia?
Manusia,
dalam setiap fase kehidupannya ia berproses dengan sangat unik dan apik.
Dimulai dari fase prenatal (pra lahir) dan setelah lahir (bayi, anak-anak,
remaja, dewasa, hingga lansia). Pada salah satu tahap perkembangan manusia
yakni pada masa penghujung remaja hingga awal dewasa, yang lazim disebut
“pemuda” terjadi perkembangan yang sangat berharga. Pada fase (normal)
tersebut, manusia akan memiliki semangat yang berkobar, pemberani, pantang
menyerah, dan optimis. Mengapa saya katakan berharga? Karena potensi-potensi tersebutlah
yang akan membangunkan Negeri ini dari tidurnya.
Berdasarkan
pengamatan pribadi saya, betapa banyak pemuda-pemuda Indonesia yang demikian.
Pemuda yang penuh semangat, pemberani, pantang menyerah, optimis, pemikir, dan
tentu juga cerdas, serta yang lebih penting mereka yang mencintai negeri ini,
Indonesia. Buah tulisan ini hadir dari sekumpul bekal tersebut. Betapa banyak
pemuda-pemuda Indonesia yang fasih bicara dengan retorika mengagumkan, menulis
dengan tulisan yang berbobot, menjuarai berbagai macam olimpiade, ikut
pertukaran antar negara, kritis dalam berpikir dan sebagainya. Hal itu masih
dinafikkan dengan kondisi realitas Indonesia kini yang masih terlelap.
Ketika
berbagai pemberitaan (masalah) hadir di hadapan mata, saya selalu mencari kemana
para pemuda. Pemuda yang semangatnya lebih panas dari terik di musim panas,
pemuda yang telah menggetarkan bumi pertiwi 68 tahun silam, pemuda yang telah
memekik kemerdekaan. Benarkah semua telah mati? Benarkah semua telah tertimbun
tanah? Tapi, tulisan-tulisan itu, tulisan-tulisan yang berceceran di
koran-koran beratasnamakan pemuda, masih ada. Banyak. Hasil pemikiran-pemikiran
rumit dalam berbagai karya tulis tiap tahun, tiap bulan diadakan, kemana?
Apakah semua dihentikan sampai di atas kertas saja? Sampai pada deretan-deretan
huruf saja? Sampai di tetesan-tetesan tinta lalu menguap? Pencarian utama tentu
saja ke dalam diri pribadi, aku sebagai pemuda. Pemuda tidak hanyak lelaki,
tapi perempuan ketika muda juga bisa dikatakan pemuda, bukan?
Seketika
rasa gusar, sesak, dan menyiksa itu menjelma ke dalam imajinasi, pada
mimpi-mimpi indah yang berharap nyata. Seperti kata Arai dalam Sang Pemimpi “Bermimpilah! Sesungguhnya Tuhan akan memeluk
mimpi-mimpi itu.” Saya yang pecandu novel-novel pemimpi mempercayai
kekuatan kata positif tersebut. Ketika telah ada yang memimpikan, berarti dapat
diwujudkan. Kekuatan keyakinan pun datang mendukung sekaligus menantang.
Pemuda
pemimpi pun sangat banyak berserakan di seantero jagad Indonesia. Tapi tidak
kelihatan sama sekali. Ketika muncul satu, maka ia bersembunyi di balik bahasa
syahdu, kami tak berwenang, kami hanya punya hak bersuara, maka teriaklah
pemuda (yang demikian) dalam berbagai bentuk orasi dan demonstrasinya yang
selalu berujung anarkis. Entah wewenang seperti apalagi yang dimaksud. Apakah
lingkaran setan itu? Dunia politik yang menakutkan? Senayan? Haruskah duduk di
sana dulu baru akan bertindak nyata? Sekali lagi, itu adalah lingkaran setan.
Semurni, setulus, sesuci apapun niat, beruntung jika bisa keluar lagi dengan
keadaan yang sama sebelum memasukinya. Itulah pengakuan dari orang-orang yang
telah duduk di kursi parlemen. Sungguh miris untuk menuggu itu. Ataukah jabatan
lain yang memiliki peluang untuk korupsi?
Wahai
para pemuda, mari kita meninggalkan sifat individualis kita, mari kita
sinergikan semangat nasionalis, buang jauh sifat kedaerahan yang hampir membuat
Indonesia menyerah dan mengakibatkan kemerdekaan 45 tak pernah diraih, sifat
kedaerahan yang sempat melumpuhkan Indonesia di tangan para penjajah dan telah
membuat kita bersekat-sekat, kini! Dan saat ini saya berani memimpikan,”Para pemuda yang berserakan, bergerak ke
pusat khatulistiwa, saling menggenggam jiwa kebangsaan, mencengkeram kuat tekad
di dalam nurani, saling bersinergi kekuatan, menggantungkan harapan pada Tuhan.
Bersatu padu. Menggetarkan bumi pertiwi dengan aksi nyata. Maka kupanggil kau
dari titik 0 khatulistiwa, Wahai Para Pemuda Indonesia, mendekatlah! Tunjukkan
aksimu!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar