Senin, 19 Agustus 2013

“Kemana Para Pemuda?” Teriakku

Sebuah pergulatan batin yang terus menerus menggeliat, sepertinya dari dalam dada. Perasaan tidak tenang, sesak, dan menyiksa saat menyimak berita-berita dari berbagai media baik elektronik maupun cetak, yang tak pernah lekang oleh masalah. Memang keberadaan  kehidupan dunia dicirikan oleh adanya masalah. Masalah-masalah itu membawa pesan kepada makhluk Tuhan yang “katanya” berakal dan berbudi pekerti untuk memfungsikan akal dan budi pekerti itu. Tapi, adakah kesadaran itu sebagai manusia?

Manusia, dalam setiap fase kehidupannya ia berproses dengan sangat unik dan apik. Dimulai dari fase prenatal (pra lahir) dan setelah lahir (bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia). Pada salah satu tahap perkembangan manusia yakni pada masa penghujung remaja hingga awal dewasa, yang lazim disebut “pemuda” terjadi perkembangan yang sangat berharga. Pada fase (normal) tersebut, manusia akan memiliki semangat yang berkobar, pemberani, pantang menyerah, dan optimis. Mengapa saya katakan berharga? Karena potensi-potensi tersebutlah yang akan membangunkan Negeri ini dari tidurnya.  

Berdasarkan pengamatan pribadi saya, betapa banyak pemuda-pemuda Indonesia yang demikian. Pemuda yang penuh semangat, pemberani, pantang menyerah, optimis, pemikir, dan tentu juga cerdas, serta yang lebih penting mereka yang mencintai negeri ini, Indonesia. Buah tulisan ini hadir dari sekumpul bekal tersebut. Betapa banyak pemuda-pemuda Indonesia yang fasih bicara dengan retorika mengagumkan, menulis dengan tulisan yang berbobot, menjuarai berbagai macam olimpiade, ikut pertukaran antar negara, kritis dalam berpikir dan sebagainya. Hal itu masih dinafikkan dengan kondisi realitas Indonesia kini yang masih terlelap.

Ketika berbagai pemberitaan (masalah) hadir di hadapan mata, saya selalu mencari kemana para pemuda. Pemuda yang semangatnya lebih panas dari terik di musim panas, pemuda yang telah menggetarkan bumi pertiwi 68 tahun silam, pemuda yang telah memekik kemerdekaan. Benarkah semua telah mati? Benarkah semua telah tertimbun tanah? Tapi, tulisan-tulisan itu, tulisan-tulisan yang berceceran di koran-koran beratasnamakan pemuda, masih ada. Banyak. Hasil pemikiran-pemikiran rumit dalam berbagai karya tulis tiap tahun, tiap bulan diadakan, kemana? Apakah semua dihentikan sampai di atas kertas saja? Sampai pada deretan-deretan huruf saja? Sampai di tetesan-tetesan tinta lalu menguap? Pencarian utama tentu saja ke dalam diri pribadi, aku sebagai pemuda. Pemuda tidak hanyak lelaki, tapi perempuan ketika muda juga bisa dikatakan pemuda, bukan?

Seketika rasa gusar, sesak, dan menyiksa itu menjelma ke dalam imajinasi, pada mimpi-mimpi indah yang berharap nyata. Seperti kata Arai dalam Sang Pemimpi “Bermimpilah! Sesungguhnya Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” Saya yang pecandu novel-novel pemimpi mempercayai kekuatan kata positif tersebut. Ketika telah ada yang memimpikan, berarti dapat diwujudkan. Kekuatan keyakinan pun datang mendukung sekaligus menantang.

Pemuda pemimpi pun sangat banyak berserakan di seantero jagad Indonesia. Tapi tidak kelihatan sama sekali. Ketika muncul satu, maka ia bersembunyi di balik bahasa syahdu, kami tak berwenang, kami hanya punya hak bersuara, maka teriaklah pemuda (yang demikian) dalam berbagai bentuk orasi dan demonstrasinya yang selalu berujung anarkis. Entah wewenang seperti apalagi yang dimaksud. Apakah lingkaran setan itu? Dunia politik yang menakutkan? Senayan? Haruskah duduk di sana dulu baru akan bertindak nyata? Sekali lagi, itu adalah lingkaran setan. Semurni, setulus, sesuci apapun niat, beruntung jika bisa keluar lagi dengan keadaan yang sama sebelum memasukinya. Itulah pengakuan dari orang-orang yang telah duduk di kursi parlemen. Sungguh miris untuk menuggu itu. Ataukah jabatan lain yang memiliki peluang untuk korupsi?

Wahai para pemuda, mari kita meninggalkan sifat individualis kita, mari kita sinergikan semangat nasionalis, buang jauh sifat kedaerahan yang hampir membuat Indonesia menyerah dan mengakibatkan kemerdekaan 45 tak pernah diraih, sifat kedaerahan yang sempat melumpuhkan Indonesia di tangan para penjajah dan telah membuat kita bersekat-sekat, kini! Dan saat ini saya berani memimpikan,”Para pemuda yang berserakan, bergerak ke pusat khatulistiwa, saling menggenggam jiwa kebangsaan, mencengkeram kuat tekad di dalam nurani, saling bersinergi kekuatan, menggantungkan harapan pada Tuhan. Bersatu padu. Menggetarkan bumi pertiwi dengan aksi nyata. Maka kupanggil kau dari titik 0 khatulistiwa, Wahai Para Pemuda Indonesia, mendekatlah! Tunjukkan aksimu!”


Tidak ada komentar: