Percik Perjalanan (yang selalu)
Manis
Oleh:
Amirah Mustafah
Jelang Ramadhan 1434 H. Seorang
anak perempuan tiba di kampung halaman di depan sebuah rumah (nampak) tua.
Ia tiba pukul 02.30 dini hari.
Suasana gelap gulita menyambutnya. Tentu saja, semua orang pasti telah
tertidur. Kampung kelihatan seperti mati, sunyi, senyap tanpa sedenting pun
bunyi alam berdendang. Angin malam pun lelah berhembus menembus kisi-kisi rumah
dan mengusap dedaunan.
Setelah membayar supir mobil
yang mengantarnya, anak itu lalu menyeret tasnya memasuki halaman rumah. Rumah
yang menjadi saksi akan banyak hal pertama yang terjadi padanya dalam keduniaan
ini. Rumah tempat ia dilahirkan, tempat segala rasa pertama kali ia kecap,
tempat yang telah menjadi saksi atas tangis dan tawa pertamanya, dan banyak hal
pertama lainnya. Dan sejumput harapan untuk mengakhiri segalanya di tempat itu
pula mungkin ada. Entah.
Selama enam bulan tak melihat
rumah itu, muncul sebersit kerinduan padanya. Ditatapnya sejenak rumah itu
dengan lamat-lamat. Kemudian suara pintu berderak, memperdengarkan ketuaannya.
Keluar seorang wanita tua dari rumah tersebut. Keduanya saling tersenyum lalu
berbasa-basi setelah mengucap salam.
“Kenapa gelap, Mam?”
“Mati balonnya.”
“Kenapa tidak diganti?”
“Tidak sempat. Kenapa?”
“Jelek dilihat dari luar kayak
tidak berpenghuni.”
Anak itu lalu menuju ruang
tengah yang menyala redup oleh cahaya lampu 5 watt. Kemudian keluar seorang
pemuda berumur sekitar 28 tahun.
“Sudah datang, Ir? Bagaimana? Ndak
muntah ji?”
“Bbahh,” jawab anak itu.
“Muntahko?” Sela si wanita tua
denga sedikit kaget.
“Iyye.”
“Kenapa bisa?”
“Tertidurka di mobil.”
Seperti biasa, ketika anak itu
naik mobil dan tertidur saat di perjalanan maka setelah bangun otomatis ia akan
pusing dan mabuk perjalanan. Mungkin itu cara Tuhan agar ia (harus) menikmati setiap
perjalanan, menyaksikan rerumah dan pepohonan yang seakan berlari berlawanan
dengan cepat seperti mengejek si pejalan bahwa ia salah jalur, merasakan udara
dingin perjalanan merasuk ke dalam pori-pori kulit, menikmati pemandangan alam
di atas gunung dengan jalanan berkelok-kelok, mengimajinasikan jurang-jurang
curam dalam kengerian yang teramat memacu adrenalin, melihat (dari atas)
burung-burung terbang, dan banyak kenikmatan lain yang memang harus dinikmati
dalam setiap perjalanan.
Seperti dalam perjalanan sejati.
Perjalanan kehidupan ini. Bahwa jangan sekali-kali tertidur atau kau akan mabuk
(tidak sadar). Tertidur akan buaian dunia akan membuat kita tidak sadar akan
keadaan di sekitar kita, lalu kita menjadi acuh tak acuh dengan mereka di luar
diri kita. Padahal kita tak sendirian hidup. Dan takkan pernah diperkenankan
hidup sendiri. Ada banyak kenikmatan yang seharusnya kita rasakan yang rasanya
jauh jauh lebih nikmat dari sekadar tertidur lalu terbuai dalam mimpi-mimpi
indah. Kenikmatan itu adalah sesuatu yang tak mampu terkatakan.
***
Setelah sepekan di kampung
halaman, rumah itu semakin tampak tua. Suram. Kusam. Penuh sarang laba-laba. Betul-betul
(seakan) tak berpenghuni, padahal anak itu sedang di dalamnya bersama
keluarganya.
Ramadhan telah tiba. Acara
sungkeman dengan Ibunda tercinta bersama ketiga saudaranya pun ia lakukan. Baiti janati, terasa pada malam pertama
Ramadhan tersebut. Tapi sebelumnya, anak itu memilih berdiri saja di depan
pintu kamar Ibunya sambil menyaksikan ketiga saudaranya sungkeman pada wanita
tua tersebut. Gilirannya memang paling terakhir selaku anak bungsu. Ia tertawa
terbahak-bahak menyaksikan ketiga saudaranya.
“Haaa... paling sebentar lagi
marahan,” celanya.
“Hushhh... kesini cepat!”
panggil Saudara pertama kepadanya.
Anak itu mendekat dengan sedikit
sungkan. Bukannya enggan. Ia hanya merasa tak perlu terlalu berlebihan seperti
itu toh jika ujung-ujungnya diulang lagi. Setiap kebaikan seharusnya dilakukan
dengan kebulatan tekad untuk tetap mengakhiri setiap yang dimulai dengan
kebaikan pula. Bukan setengah niat dan hanya berakhir di mulut.
Benar saja, sebab dua hari
kemudian terjadi cekcok antara Ibunya cs Saudara Kedua dan Saudara Ketiga
versus Saudara Pertama. Tiga lawan satu. Anak perempuan itu selalu di posisi
netral. Mungkin ia selalu dianggap anak kecil, padahal ia sudah tingkat dua di
sebuah Universitas Negeri di Kota Makassar.
(Bersambung...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar