Senin, 05 Agustus 2013

B <-> M

Percik Perjalanan (yang selalu) Manis
Oleh: Amirah Mustafah
Jelang Ramadhan 1434 H. Seorang anak perempuan tiba di kampung halaman di depan sebuah rumah (nampak) tua.
Ia tiba pukul 02.30 dini hari. Suasana gelap gulita menyambutnya. Tentu saja, semua orang pasti telah tertidur. Kampung kelihatan seperti mati, sunyi, senyap tanpa sedenting pun bunyi alam berdendang. Angin malam pun lelah berhembus menembus kisi-kisi rumah dan mengusap dedaunan.
Setelah membayar supir mobil yang mengantarnya, anak itu lalu menyeret tasnya memasuki halaman rumah. Rumah yang menjadi saksi akan banyak hal pertama yang terjadi padanya dalam keduniaan ini. Rumah tempat ia dilahirkan, tempat segala rasa pertama kali ia kecap, tempat yang telah menjadi saksi atas tangis dan tawa pertamanya, dan banyak hal pertama lainnya. Dan sejumput harapan untuk mengakhiri segalanya di tempat itu pula mungkin ada. Entah.
Selama enam bulan tak melihat rumah itu, muncul sebersit kerinduan padanya. Ditatapnya sejenak rumah itu dengan lamat-lamat. Kemudian suara pintu berderak, memperdengarkan ketuaannya. Keluar seorang wanita tua dari rumah tersebut. Keduanya saling tersenyum lalu berbasa-basi setelah mengucap salam.
“Kenapa gelap, Mam?”
“Mati balonnya.”
“Kenapa tidak diganti?”
“Tidak sempat. Kenapa?”
“Jelek dilihat dari luar kayak tidak berpenghuni.”
Anak itu lalu menuju ruang tengah yang menyala redup oleh cahaya lampu 5 watt. Kemudian keluar seorang pemuda berumur sekitar 28 tahun.
“Sudah datang, Ir? Bagaimana? Ndak muntah ji?”
“Bbahh,” jawab anak itu.
“Muntahko?” Sela si wanita tua denga sedikit kaget.
“Iyye.”
“Kenapa bisa?”
“Tertidurka di mobil.”
Seperti biasa, ketika anak itu naik mobil dan tertidur saat di perjalanan maka setelah bangun otomatis ia akan pusing dan mabuk perjalanan. Mungkin itu cara Tuhan agar ia (harus) menikmati setiap perjalanan, menyaksikan rerumah dan pepohonan yang seakan berlari berlawanan dengan cepat seperti mengejek si pejalan bahwa ia salah jalur, merasakan udara dingin perjalanan merasuk ke dalam pori-pori kulit, menikmati pemandangan alam di atas gunung dengan jalanan berkelok-kelok, mengimajinasikan jurang-jurang curam dalam kengerian yang teramat memacu adrenalin, melihat (dari atas) burung-burung terbang, dan banyak kenikmatan lain yang memang harus dinikmati dalam setiap perjalanan.
Seperti dalam perjalanan sejati. Perjalanan kehidupan ini. Bahwa jangan sekali-kali tertidur atau kau akan mabuk (tidak sadar). Tertidur akan buaian dunia akan membuat kita tidak sadar akan keadaan di sekitar kita, lalu kita menjadi acuh tak acuh dengan mereka di luar diri kita. Padahal kita tak sendirian hidup. Dan takkan pernah diperkenankan hidup sendiri. Ada banyak kenikmatan yang seharusnya kita rasakan yang rasanya jauh jauh lebih nikmat dari sekadar tertidur lalu terbuai dalam mimpi-mimpi indah. Kenikmatan itu adalah sesuatu yang tak mampu terkatakan.
***
Setelah sepekan di kampung halaman, rumah itu semakin tampak tua. Suram. Kusam. Penuh sarang laba-laba. Betul-betul (seakan) tak berpenghuni, padahal anak itu sedang di dalamnya bersama keluarganya.
Ramadhan telah tiba. Acara sungkeman dengan Ibunda tercinta bersama ketiga saudaranya pun ia lakukan. Baiti janati, terasa pada malam pertama Ramadhan tersebut. Tapi sebelumnya, anak itu memilih berdiri saja di depan pintu kamar Ibunya sambil menyaksikan ketiga saudaranya sungkeman pada wanita tua tersebut. Gilirannya memang paling terakhir selaku anak bungsu. Ia tertawa terbahak-bahak menyaksikan ketiga saudaranya.
“Haaa... paling sebentar lagi marahan,” celanya.
“Hushhh... kesini cepat!” panggil Saudara pertama kepadanya.
Anak itu mendekat dengan sedikit sungkan. Bukannya enggan. Ia hanya merasa tak perlu terlalu berlebihan seperti itu toh jika ujung-ujungnya diulang lagi. Setiap kebaikan seharusnya dilakukan dengan kebulatan tekad untuk tetap mengakhiri setiap yang dimulai dengan kebaikan pula. Bukan setengah niat dan hanya berakhir di mulut.

Benar saja, sebab dua hari kemudian terjadi cekcok antara Ibunya cs Saudara Kedua dan Saudara Ketiga versus Saudara Pertama. Tiga lawan satu. Anak perempuan itu selalu di posisi netral. Mungkin ia selalu dianggap anak kecil, padahal ia sudah tingkat dua di sebuah Universitas Negeri di Kota Makassar.
(Bersambung...)

Tidak ada komentar: