Buah Hatiku...
Bunda minta maaf,
Nak karena saat ini telah merindukanmu. Mungkin terlalu cepat hadirnya rindu
ini. Rindu yang merayap di permukaan hati Bunda jauh sebelum engkau ada. Bahkan
sebelum ada seseorang mengisi hati Bunda untuk kehadiranmu.
Rindu Bunda telah
pekat. Ah, terlalu cepat.
Anakku yang
Sholeh/Sholehah, Putra/Putri Mahkotaku... ^_^
Imam Syafi’i pernah
berkata “Didiklah anak-anakmu 20 tahun sebelum kelahirannya.”
Duhai Anakku, Bunda
hanya ingin seperti itu, mendidikmu jauh sebelum kelahiranmu. Itu artinya
mendidik diri Bunda sendiri.
Itulah sebabnya
Bunda tak ingin menjalin hubungan asmara seumur hidup Bunda dengan siapapun
sebelum seseorang itu datang dengan terhormat ke rumah Bunda. Karena Bunda
ingin mendidikmu, Nak sekaligus menjaga kehormatan seseorang yang mungkin akan
kau panggil Ayahanda, Abi, Bapak, Etta, dan terserah apa nanti yang kami
ajarkan padamu, Nak.
Bahkan jatuh cinta
bagi Bunda adalah sebuah aib, Nak sebelum seseorang yang halal meminang Bunda.
Cinta adalah anugerah, Bunda percaya itu, Nak. Tapi Bunda ingin menjaga
kesucian cinta itu. Cinta terkhusus yang kelak hanya kubagi kepada suami dan
anak-anakku. Cinta yang sekarang cukup untuk keluargaku, Ayah Ibuku,
kakak-kakakku, sahabatku, dan semua orang-orang yang menyertakan hatinya
bersamaku tanpa muluk-muluk.
Nanti engkau akan
mengerti sendiri, Nak. Biarkan waktu yang menguraikan pelan-pelan atas semua.
Anakku, Semangatku,
engkau menjadi salah satu penyemangatku untuk terus membenahi diri. Terima
kasih. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar