Senin, 29 Juli 2013

Dear Buah Hatiku.

Buah Hatiku...

Bunda minta maaf, Nak karena saat ini telah merindukanmu. Mungkin terlalu cepat hadirnya rindu ini. Rindu yang merayap di permukaan hati Bunda jauh sebelum engkau ada. Bahkan sebelum ada seseorang mengisi hati Bunda untuk kehadiranmu.
Rindu Bunda telah pekat. Ah, terlalu cepat.

Anakku yang Sholeh/Sholehah, Putra/Putri Mahkotaku... ^_^
Imam Syafi’i pernah berkata “Didiklah anak-anakmu 20 tahun sebelum kelahirannya.”
Duhai Anakku, Bunda hanya ingin seperti itu, mendidikmu jauh sebelum kelahiranmu. Itu artinya mendidik diri Bunda sendiri.

Itulah sebabnya Bunda tak ingin menjalin hubungan asmara seumur hidup Bunda dengan siapapun sebelum seseorang itu datang dengan terhormat ke rumah Bunda. Karena Bunda ingin mendidikmu, Nak sekaligus menjaga kehormatan seseorang yang mungkin akan kau panggil Ayahanda, Abi, Bapak, Etta, dan terserah apa nanti yang kami ajarkan padamu, Nak.

Bahkan jatuh cinta bagi Bunda adalah sebuah aib, Nak sebelum seseorang yang halal meminang Bunda. Cinta adalah anugerah, Bunda percaya itu, Nak. Tapi Bunda ingin menjaga kesucian cinta itu. Cinta terkhusus yang kelak hanya kubagi kepada suami dan anak-anakku. Cinta yang sekarang cukup untuk keluargaku, Ayah Ibuku, kakak-kakakku, sahabatku, dan semua orang-orang yang menyertakan hatinya bersamaku tanpa muluk-muluk.

Nanti engkau akan mengerti sendiri, Nak. Biarkan waktu yang menguraikan pelan-pelan atas semua.


Anakku, Semangatku, engkau menjadi salah satu penyemangatku untuk terus membenahi diri. Terima kasih. J

Tidak ada komentar: