Selalu begitu. Ia selalu dengan tingkah
yang sama di setiap lelah yang memayungi ragaku dan ketika banyak hal mengaduk
pikiranku. Ia selalu datang dengan judul yang sama, dengan paraphrase kalimat
–berlebihan jika kukatakan sama saja setiap saat, dan dengan keluhan yang juga
berlebihan. Mungkin aku telah sangat jenuh, tapi sepertinya ia takkan pernah
mengerti atau tak mau mengerti sama sekali.
Setiap kali pun kuberharap bahwa dia
paham aku bukanlah tembok sumpah serapah atas kekesalan dia pada orang lain.
Aku manusia dengan rasa yang menggenapi diriku. Pun aku punya aktivitas luar
yang bisa saja kukeluhkan, aktivitas yang menguasai pikiranku. Tapi aku memilih
untuk –selalu membisu. Ya, karena dengan membisu aku menemukan banyak jawaban,
banyak makna untuk menyelesaikan beberapa hal. Dan hanya keluhan ini yang
mungkin tak dapat kupangkas ujungnya dengan sebatas diam lalu memantulkan
pikiran ke dinding manapun yang kumau. Maka aku menulisnya. Pun tak ingin
kutulis keluhan ini dengan telanjang bulat. Karena sekali lagi aku tetap ingin
kau menalari setiap hal di sekelilingmu, termasuk keluhku. Akan tetapi jika kau
tak mampu membacanya apalagi melihat sepintas saja garis-garis yang menyusun
huruf-hurufnya, takkan jadi masalah bagiku. Karena cukup dengan menulis ini pun
aku telah lega.
Sadarkah, aku sudah punya dua opsi yang
mungkin bisa membantumu meredam peri keluhmu? Benarkah kau menangkap maksudku?
Ya benar… Opsi itu adalah diam atau menulis. Tapi aku
tahu jika itu tak mudah bagimu, karena kau bukan di kedua sisi itu. Kau bukan
tipe pendiam dan penulis yang tekun, juga bukan pribadi yang gesit dan pengalih
keluh dengan kesibukan. Kita memang sangat berbeda.
Kau adalah seorang pembicara yang handal
dan mungkin aku pendengar yang tidak baik. Aku bukan penikmat cerita yang
menguap di ujung kedua bibir, bahkan itu sangat memuakkan bagiku. Aku bisa
dikata tidak pernah suka dengan sesuatu yang berdesing bunyinya tapi tidak
mampu bergerak sama sekali.
Aku lumpuh jika banyak bicara dengan
suara, aku tidak bisa produktif. Pahamkah ini? Kuharap lagi agar jangan
mengajakku lumpuh kecuali jika kau memang menginginkan aku begitu.
Saranku, alirkan saja semua keluhmu,
segala masalahmu, setiap resahmu pada Allah Swt. ssebab hanya Dia-lah Yang Maha
Mendengar. Lantas jika keluhku pun kupampang di sini, ia hanyalah sebagai
bentuk saling mengingatkan. Tak lebih.
Maaf jika ini kau anggap sebuah
tuntutan, maaf jika aku berada di pihak yang tidak pengertian, namun adakalanya
sesuatu seperti ini perlu dibahasakan untuk mempercantik sebuah ikatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar