Jumat, 26 April 2013

THE SPIRITUAL JOURNEY OF AMIRAH MUSTAFAH



“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia telah mengenal Tuhannya.”
AMIRAH MUSTAFAH lahir di sebuah kampung kecil, di sebuah sudut pasar tradisional pada Hari Kamis, 16 Juni 1994. Amirah kecil yang selalu punya kecenderungan keras kepala, sangat manja dan tukang iri pada kakaknya. Tapi hati-hati bicara denganya, sebab hampir semua kata-kata yang dilontarkan kepadanya, ia simpan rapat-rapat di memorinya. Apalagi kata yang mengandung pribadinya.

Introspeksi. Yup, mungkin seperti itulah adanya. Setiap kalimat yang dia terima mengenai ketidaksetujuan akan sikapnya akan menjadi bahan pemikirannya setiap saat. Amirah kecil selalu melakukan itu, ia rasakan betul perubahan-perubahan itu sejak masih duduk di kelas 1 Sekolah Dasar.

Dimulai dari melihat kemampuan teman-temannya yang lain telah mampu berpuasa full, maksudnya dari terbit fajar sampai terbenam matahari pada Bula Ramadhan, pikirannya tidak tinggal diam, dibulatkan tekadnya untuk memulai berpuasa juga meski hanya mampu melakukannya selama 6 hari. Begitupun hafalan surah-surah pendek. Teman-temannya yang rata-rata masuk TK/TPA telah mengahapal banyak, sementara Amirah baru 4 yakni AlFatihah dengan ketiga surah terakhir dalam Al-Qur’an. Memang sejak kecil ia diajari langsung membaca Al-Qur’an oleh Sang Ayah, Ayah tak pernah menekankan pada anak-anaknya untuk langsung menguasai hal-hal seperti itu. Kemampuan membaca ayat Al-Qur,an dengan lancar sejak kelas 1 SD menjadi anugerah tersendiri baginya. Dia berusaha menghapal sendiri dari Al-Qur’an kecilnya.

Dan saat menginjak kelas 3 SD, ia telah berniat untuk tidak ada puasanya yang bolong. Pas kelas 4 SD, sudah mampu menamatkan Alqur’an dalam bulan Ramadhan. Meski hal-hal itu tidak dilalui dengan mudah, penuh ujian. Rasa haus dan lapar saat puasa dan kecenderungan untuk bermain terus merayunya. Hingga sambil tadarrus ia rendam kakinya di dalam air yang disiapkan sambil duduk di atas kursi pink kecilnya. Ayah selalu mengembang senyumnya jika melihatnya demikian dan memeluknya erat-erat sambil melontarkan pujiannya. Lalu mengajaknya bersenandung doa-doa hingga buka puasa tiba.

Ketika kelas 6 SD, ramadhan  pertamanya tanpa Ayah di sisinya sebab Tuhan telah memanggilnya. Ia juga bulatkan tekad untuk menamatkan bacaan AlQur’an untuk Sang Ayah tercinta.
Saat menginjak usia 11 tahun di tingkat pendidikan SMP, tekadnya sejak lama untuk mengenakan jilbab, akhirnya ia wujudkan dan bertekad pula untuk tidak lagi dilepas-lepas, meski baru jilbab kecil. Sejak saat itu pula dia memantapkan shalat fardhunya, tapi godaan bahwa ia belum baligh terus membuatnya untuk kecolongan shalat fardhu hingga berusia 14,5 tahun. Ia mulai mengalami pubertas pada usia tersebut.

Keterarikan pada lawan jenis tak dapat dipungkiri, tapi karakter dasarnya Amirah yang pemalu membuatnya tak berani mendekati laki-laki, jadi wajar saja semua teman laki-lakinya dari kecil sampai SMA seperti tidak saling kenal. Setelah memasuki lingkungan perguruan tinggi, ia mulai terbuka mulai belajar mengenal teman lawan jenisnya karena sudah merasa mampu mengontrol benih-benih merah jambu ^_^…. InsyaALLAH
Dan saat ini, ia duduk di semester dua Fakultas Psikologi, Amirah menguatkan tekad untuk mulai menggunakan jilbab yang membuat nyaman. Dia juga ingin sungguh mendalami ilmu agamanya, mulai dari tahsin sampai-sampai hal yang lebih kompleks.

Ternyataaa, Tuhan telah memberikan anugerah paling besar selama hidupku. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
Tuhan, jaga keistiqomahan padaku... 


Tidak ada komentar: