Kamis, 25 April 2013

AYAAAAAAAAAH



Selubung sekat menguraikan waktu yang berlalu
Dan memori yang berputar mengulang waktu tujuh tahun yang lalu

Aku pernah mengagumi sesosok pria yang begitu bersahaja,
Sampai sekarang pun rasa kagum itu tidak pernah berkurang justru terus menganak-pinak saat makin banyak kudekap hidup.
Pria itu, selalu sejuk dengan senyumannya
Bijaksana nasihatnya yang selalu membuatku tergugu kala keluh merayuku.
“Paccolo-colo atimmu tarima paccobana Puang Allaa Taalaa, Nakku!”
Bahasa kebanggaan beliau yang artinya kurang lebih demikian:
“Luaskan hatimu! Seluas-luasnya atas semua yang Tuhan berikan, Anakku!.”
Hm… teringat bahasa kebanggaan, sampai-sampai ia menyarankan pada para orang tua agar anak-anaknya diperkenalkan bahasa bugis sebagai bahasa pertamanya.

Pria itu sederhana, tapi berkharisma.
Begitu mencintai sunnah Rasulullah.
Asing oleh kemewahan tapi syukurnya melambung tinggi.
Pappi, aku memanggilnya demikian.

Rinduku melepuh padanya.
Tuhan, betapa bahagianya menyebut beliau Ayahku.
Betapa beruntungnya aku.
Kata-katanya selalu bertabur hikmah.
Usia sebelas tahun,aku sudah bisa menyerap semua dalam buku memoriku
Dan telah terpatri di alam bawah sadarku, kata-kata itu muncul seketika aku butuh
Suara-suaranya masih jelas kudengar meski raganya telah tertimbun lama.


Tuhan, maka nikmatMu yang manakah yang dapat kudustakan.
Ayah yang tak pernah marah meski anaknya bandelnya minta ampun, cengengnya yang luar biasa, dan banyak maunya. Sebab ia selalu punya kata yang menenangkan, kata yang mampu meredam bandelnya anak-anaknya termasuk akuuuuu JKata yang lembut tapi tegas dan berbekas di hati kami dan tak bisa terhapus.

Tidak ada komentar: