Selubung sekat
menguraikan waktu yang berlalu
Dan memori yang
berputar mengulang waktu tujuh tahun yang lalu
Aku pernah
mengagumi sesosok pria yang begitu bersahaja,
Sampai sekarang
pun rasa kagum itu tidak pernah berkurang justru terus menganak-pinak saat
makin banyak kudekap hidup.
Pria itu, selalu
sejuk dengan senyumannya
Bijaksana
nasihatnya yang selalu membuatku tergugu kala keluh merayuku.
“Paccolo-colo
atimmu tarima paccobana Puang Allaa Taalaa, Nakku!”
Bahasa kebanggaan
beliau yang artinya kurang lebih demikian:
“Luaskan hatimu!
Seluas-luasnya atas semua yang Tuhan berikan, Anakku!.”
Hm… teringat
bahasa kebanggaan, sampai-sampai ia menyarankan pada para orang tua agar
anak-anaknya diperkenalkan bahasa bugis sebagai bahasa pertamanya.
Pria itu sederhana,
tapi berkharisma.
Begitu mencintai
sunnah Rasulullah.
Asing oleh
kemewahan tapi syukurnya melambung tinggi.
Pappi, aku
memanggilnya demikian.
Rinduku melepuh
padanya.
Tuhan, betapa
bahagianya menyebut beliau Ayahku.
Betapa
beruntungnya aku.
Kata-katanya
selalu bertabur hikmah.
Usia sebelas
tahun,aku sudah bisa menyerap semua dalam buku memoriku
Dan telah
terpatri di alam bawah sadarku, kata-kata itu muncul seketika aku butuh
Suara-suaranya
masih jelas kudengar meski raganya telah tertimbun lama.
Tuhan, maka
nikmatMu yang manakah yang dapat kudustakan.
Ayah yang tak
pernah marah meski anaknya bandelnya minta ampun, cengengnya yang luar biasa,
dan banyak maunya. Sebab ia selalu punya kata yang menenangkan, kata yang mampu
meredam bandelnya anak-anaknya termasuk akuuuuu JKata yang lembut tapi tegas dan berbekas di hati kami dan tak
bisa terhapus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar