Hampir setiap saat
rasa bergelut denganku
beraneka corak dan warnanya
Tapi, ada satu yang paling sering jadi "Permata Rangkaian Rasa Apa"
Tentang pengorbanan
Benarkah kita pernah berkorban dalam hidup ini?
dalam melatih keikhlasan, merangkai kesyukuran, dan tertatih menggapai cintaNya
lafaz-lafaz rindu tereja dengan kata
hati-hati pecemburu terselimut kabut
dan kunikmati malam apa adanya
Seseorang pernah mengagumi tentang beberapa pengorbanan
namun beriringan dengan itu, aku tergugu malu pada Tuhanku
Sebab
Tak pernah ada pengorbanan dari setiap ciptaan, sejatinya.
Semua, segalanya adalah pinjaman dari Tuhan
hanya menukar-nukar setelah meminjam sebagian mesti dikembalikan.
Mengorbankan waktu dan tenaga itulah semu
sebab ada iming-iming ilmu membuntuti
Mengorbankan kegiatan yang dunia menganggapnya utama
adalah tipu belaka
Sebab
Tak pernah ada pengorbanan dari setiap ciptaan, sejatinya.
Hidup telah menjadi sosok guru paling menginspirasi
Dari kehidupan aku belajar
bahwa betapa entengnya kita menganggap "Hidup Itu Keras"
Semua yang terangkai membentuk wujudku kupinjam dari Tuhan
Semua yang bersatu menjadi jiwa yang utuh yang menikmati rasa merasa pun kupinjam dari Tuhan
Apalagi sepaket tenaga yang juga kupinjam dari penambahan dayanya yang Tuhan pinjamkan
Waktu, setiap detiknya dari Tuhan. itupun kupinjam tapi seringkali kulalaikan.
Belum lagi pakaian setiap dari itu, termasuk orang-orang di sekitarku, semua titipan dan pijaman
Lalu,
Kita mengejar dunia dengan mengatakan aku ikhlas berkorban atas semua ini. Dan Tuhan pun menggantinya dengan lebih baik.
Ah, tidakkah kalian lihat betapa tak tahu dirinya kita.
Sudah dipinjamkan, kita malah mengaku-ngaku bahwa itu milik kita dan telah mengorbankannya?
Hidup ini adalah rangkaian pinjam meminjam kepada Tuhan.
Lantas apa alasan mengatakan "Hidup Itu Keras"?
Kita dengan mudahnya meminjam untuk hidup ini, tapi selalu lupa berterima kasih maka "Hidup Itu Keras"
Dari kehidupan pula aku belajar
Bahwa hidup ini adalah serangkaian sedekah, jika mata hati melihat, bicara, dan mendengar.
Terima Kasih, Cinta
rasa bergelut denganku
beraneka corak dan warnanya
Tapi, ada satu yang paling sering jadi "Permata Rangkaian Rasa Apa"
Tentang pengorbanan
Benarkah kita pernah berkorban dalam hidup ini?
dalam melatih keikhlasan, merangkai kesyukuran, dan tertatih menggapai cintaNya
lafaz-lafaz rindu tereja dengan kata
hati-hati pecemburu terselimut kabut
dan kunikmati malam apa adanya
Seseorang pernah mengagumi tentang beberapa pengorbanan
namun beriringan dengan itu, aku tergugu malu pada Tuhanku
Sebab
Tak pernah ada pengorbanan dari setiap ciptaan, sejatinya.
Semua, segalanya adalah pinjaman dari Tuhan
hanya menukar-nukar setelah meminjam sebagian mesti dikembalikan.
Mengorbankan waktu dan tenaga itulah semu
sebab ada iming-iming ilmu membuntuti
Mengorbankan kegiatan yang dunia menganggapnya utama
adalah tipu belaka
Sebab
Tak pernah ada pengorbanan dari setiap ciptaan, sejatinya.
Hidup telah menjadi sosok guru paling menginspirasi
Dari kehidupan aku belajar
bahwa betapa entengnya kita menganggap "Hidup Itu Keras"
Semua yang terangkai membentuk wujudku kupinjam dari Tuhan
Semua yang bersatu menjadi jiwa yang utuh yang menikmati rasa merasa pun kupinjam dari Tuhan
Apalagi sepaket tenaga yang juga kupinjam dari penambahan dayanya yang Tuhan pinjamkan
Waktu, setiap detiknya dari Tuhan. itupun kupinjam tapi seringkali kulalaikan.
Belum lagi pakaian setiap dari itu, termasuk orang-orang di sekitarku, semua titipan dan pijaman
Lalu,
Kita mengejar dunia dengan mengatakan aku ikhlas berkorban atas semua ini. Dan Tuhan pun menggantinya dengan lebih baik.
Ah, tidakkah kalian lihat betapa tak tahu dirinya kita.
Sudah dipinjamkan, kita malah mengaku-ngaku bahwa itu milik kita dan telah mengorbankannya?
Hidup ini adalah rangkaian pinjam meminjam kepada Tuhan.
Lantas apa alasan mengatakan "Hidup Itu Keras"?
Kita dengan mudahnya meminjam untuk hidup ini, tapi selalu lupa berterima kasih maka "Hidup Itu Keras"
Dari kehidupan pula aku belajar
Bahwa hidup ini adalah serangkaian sedekah, jika mata hati melihat, bicara, dan mendengar.
Terima Kasih, Cinta
1 komentar:
saya suka tulisannya Amirah. teruskan ukhti jadilah penulis yang bermanfaat ;)
Posting Komentar