Selasa, 16 Juli 2013

Setelah membaca PEREMPUAN RUMAH KENANGAN, tidak selesai utuh.

Pikiran-pikiran “mungkin” menyerang dan menyeret semua imajinasiku tentang seseorang yang sangat kuhormati dengan kehebohanku, kuhormati dengan caraku sendiri, dengan caraku yang selalu menertawakannya, mencerca bak anak kecil yang mengomel lincah, atau bahkan menghormati dengan patuhi perintahnya saat ia seperti apa yang kupikirkan “mungkin”. Juga kuhormati dengan sering meminta sesuatu padanya. Ada hal yang aneh dalam hidup seseorang itu, seseorang yang aku mencintainya karena ia salah satu titik yang melengkapi hidupku. Keajaiban-keajaiban yang dialami Aan Mansyur, sang Penulis, membawaku bersimpul, mungkinkah dia juga demikian? Banyak hal yang mirip sehingga membuatku meneropong tebakan-tebakan bahwa mungkin ia juga demikian. Sungguh-sungguh aneh. Sangat aneh. Bahkan keanehan itu menjadi salah satu alasan kutitik pilihanku di ilmu kejiwaan. Ku ingin memahaminya karena aku mencintainya. Cinta padanya harus kumiliki sejak rohku tercipta, sehingga mencintainya adalah takdir, bukan alasan yang lain. Seringkali kuamati keanehan itu, betapa tersiksanya ia ketika keajaiban-keajaiban Tuhan itu ia rasakan. Ketika menyampaikan hasil keajaiban itu kepadaku dan yang lainnya, kami seperti menanti petuah kakek moyang yang terkesan mistis dan merindingkan bulu kuduk. Antara percaya dan tidak. Dan sampai sekarang kumasih terikat pada keraguan itu. Porsi perhatianku padanya tetap sama dengan yang lain, tapi porsi perhatian dia padaku terasa berlebih, mungkin karena akulah mainan kecilnya yang paling lugu dan polos. Dan aku paling mirip dengan seseorang yang dibanggakannya, seseorang yang telah membuatnya mengenal arti hidup dan kehilangan. Aku ingin memahaminya bukan berarti aku biarkan ia berlaku semaunya. Ia punya sifat keras kepala saat keajaiban itu menggeliat. Dasarnya memang demikian tapi akan over ketika keajaiban itu datang. Yang membuat penasaran, akankah ia berlaku malaikat atau iblis paling kejam di seketika itu. Saat kubaca buku Aan Mansyur, aku terkesima. Mungkinkah saatnya Tuhan menyampaikan proses-prosesnya itu secara tersirat lewat bacaan ini? Hm... kadang kutakan ia, karena ada beberapa celah yang bisa membuatku untuk membenarkannya. Tapi, persangkaan negatif yang ada di salah satu celahnya, membuatku terdiam. Membuatku menghentikan pikiranku, dan kubiarkan mandek di situ. Pikiran-pikiran “mungkin” yang masih berada dalam tahap ragu-ragu di titik paling seimbang mengajakku untuk berserah. Kuangkat titik keraguan itu ke langit, ke hadapan Tuhan, untuk menyediakan jawabannya di waktu yang tepat. Meski dalam pikiranku, ketika “Kemungkinan” itu telah bergeser posisi ke titik yang benar, maka kecewa pasti akan membusanai nuraniku, kecewa yang lebih dalam lagi yang kurasakan ketika kubayangkan wajah seseorang yang kuserupai itu menelan ludah membatu sepanjang hidupnya, dan beruntung ia telah tiada. Maka, cukup aku yang merasakan, mewakili setiap hati yang lain. Ah, tapi kuyakin keyakinan ini ragu. #SALAM

Tidak ada komentar: